Renungan Minggu 10 februari 2013-“Panggilan dan perutusan Kristus itu menyucikan”

misa pembukaan bulan kitab suci 2010 Romo Suto“Panggilan  dan  perutusan  Kristus  itu  menyucikan”

 

 

 

 

 

Allah menyucikan bibir nabi Yesaya, karena ia diutus harus menyampaikan sabda Allah kepada umat-Nya (Bacaan pertama, Yes. 16:1-2a, 3-8). Demikian pula panggilan dan perutusan kepada rasul Paulus, sekalipun ia katakan sendiri sebagai lahir sebelum waktunya, karena ia dipanggil ketika ia masih menganiaya para pegikut Kristus, tetapi dengan dibutakan ia disucikan (Bacaan kedua, 1Kor.15:1-11). Juga sama panggilan kepada Simon, Yakobus dan Yohanes, sekalipun mereka yang merasa berdosa dan tidak layak, tetapi mereka disucikan dengan meninggalkan segalanya dan mengikuti Kristus (Bacaan Injil,             Luk. 8:1-11).

 

Panggilan Allah adalah karunia, yang mengubah manusia secara radikal, dilihat dari orientasi hidupnya membalikkannya seratus delapan puluh derajat. Sebab panggilan itu bagaikan menempatkan orang ke dalam hadirat Allah, sehingga manusia dimurnikan, dikembalikan kepada aslinya sebagai ciptaan Allah yang baru, yang memancarkan kemuliaan-Nya.

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-5 ini mengingatkan kita, bahwa diciptakan itu dipanggil dari ketiadaan menjadi ada dalam Sang Ada. Ini berarti ciptaan itu tidak dapat dilepaskan dari Penciptanya, yaitu Allah. Setiap ciptaan merupakan pernyataan Sang Pencipta, demikian pula manusia. Persoalan bagi manusia ialah bahwa manusia itu diciptakan sebagai pribadi, yang berakal budi, berdaulat dan berhati nurani.

Ini berarti manusia sendiri harus menyadari bahwa ia adalah pernyataan Allah yang menciptakannya dan dengan bebas mau ‘berfungsi’ sebagai pernyataan. Tetapi berdosa bagi manusia itu berarti menolak ‘fungsinya’ sebagai pernyataan itu. Sebab sebagai pribadi ada kecenderungan dalam diri manusia bukan hanya mau mengenal dirinya sendiri tetapi juga mau memperkenalkan diri sendiri, karena pribadi manusia adalah pribadi sosial. Maka dosa mengaburkan jati diri manusia sebagai gambar Allah, mencemari diri manusia sendiri, sehingga manusia hanya dapat meraba-raba jati dirinya.

Oleh karena itu panggilan Allah untuk perutusan sebenarnya tidak lain dari pada meng-eksplisit-kan jati diri manusia sebagaimana aslinya. Ini berarti memurnikan kembali jati diri manusia sebagai ciptaan Allah, sebagai pernyataan Allah, yang tidak lain daripada panggilan beriman, yaitu panggilan untuk menerima kebenaran sebagaimana disaksikan oleh Sang Manusia, yaitu Kristus Yesus. Karena selama di dunia ini manusia itu terbatas, maka tampak ada bermacam-macam karunia (lh. 1Kor.12:4-11), sehingga tiap-tiap karunia seolah-olah panggilan khusus. Tetapi semua karunia itu berasal dari satu dan mengarah kepada satu, yaitu pemurnian jati diri manusia. Itu sama dengan manusia disucikan. Panggilan menjadi rasul, menjadi saksi Kristus, Sang Kebenaran, tampak pada “Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus”.

Atau seperti rasul Paulus : “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia”.

Demikian pula panggilan untuk menjadi nabi, seperti panggilan nabi Yesaya. “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku seorang yang najis bibir,…….. Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni”.

Sadarkah kita, menjadi orang beriman, kita pun karunia, dipanggil untuk dimurnikan, diampuni dosa kita? Apakah kita sebagai orang beriman menomor-satukan Kristus dalam seluruh kehidupan kita? Apakah iman kita tidak sia-sia?  

 

 

 St. Sutopanitro, Pr

 

Advertisements
%d bloggers like this: