Renungan harian 21 Januari 2013-“tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula”

IMG_1213Senin, 21 Januari 2013
Pekan Biasa II
Pw Sta. Agnes, Prw.Mrt. (M);

 

Ibr. 5:1-10;
Mzm. 110:1,2,3,4;
Mrk. 2:18-22
Bacaan Injil    : Mrk. 2:18–22

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

Renungan:

St. Agnes yang kita rayakan hari ini adalah seorang yang telah hidup setia dengan panggilannya. Kesetiaan itulah yang menghantarnya sampai pada persatuan dengan Kristus dalam kemartirannya. St.Agnes berusaha hidup sesuai dengan iman kristiani, inilah hidup baru yang diterimanya dari Kristus.

Dalam Injil dikatakan bahwa anggur baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya ada kesesuaian antara isi yang baru dan tempat yang baru. Yesus datang membawa sebuah pembaharuan hidup dan memberikan hidup abadi. Oleh sebab itulah diperlukan keterbukaan hati untuk menerima Kabar Gembira ini, yakni akan hidup bahagia hingga ke hidup kekal.

Supaya hidup baru dapat dihidupi diperlukan sebuah pembenahan hidup, menata diri dan bertobat dari hidup lama yang memang tidak sesuai dengan iman Kristiani.

Sekarang bagi kita, inilah saat untuk kembali menata diri, bertobat. Sikap tobat adalah sikap pembaharuan hidup, yang tidak jarang membutuhkan pengorbanan. Sikap tobat dapat diwujudkan dalam berbagaitindakan nyata, misalnya puasa. Namun tetap harus diingat tujuan utama dibalik semua kegiatan itu agar tidak hanya berhenti pada yang tampak. Yang diperlukan adalah perubahan di dalam diri setiap pribadi manusia, di dalam diri kita masing-masing. Marilah kita berbenah diri, mulai dari saat ini supaya Tuhan berkenan tinggal di dalam diri kita selamanya.

 

(Renungan Harian Mutiara Iman 2013, yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta )

Advertisements
%d bloggers like this: