Renungan Minggu 20 Januari 2013-Allah menyertai dan berkarya melalui umat-Nya, agar dunia mengenali-Nya sebagai satu-satunya Allah.

misa pembukaan bulan kitab suci 2010 Romo SutoAllah menyertai dan berkarya melalui umat-Nya, agar dunia mengenali-Nya sebagai satu-satunya Allah.

Allah menyertai umat-Nya bagaikan suami menyertai isterinya untuk menyatakan kebenaran dan karya penyelamatan-Nya (Bacaan pertama, Yes.62:1-5). Karya Allah melalui umat-Nya dalam berbagai macam bentuk, sekalipun tampaknya tidak ada hubungannya antara yang satu dengan lain, tetapi arahnya hanya satu, yaitu mengenal satu-satunya Allah (Bacaan kedua, 1Kor.12:4-11). Demikianlah kehadiran Kristus dan Bunda-Nya pada perayaan pesta kawin di Kana, justru oleh dorongan Bunda Maria, Kristus memperkenalkan karya Allah yang menyelamatkan (Bacaan Injil, Yoh.2:1-11).

Selama di dunia ini manusia hidup dalam tanda, yaitu bahwa yang dapat dilihat dengan mata, didengar dengan telinga, diraba dengan tangan, dicium dengan hidung, dirasa dengan lidah, semuanya hanya tanda akan sesuatu yang berada di belakang yang ditangkap pancaindera itu. Kebenaran dan kesejatiannya justru tidak tampak. Maka Kristus menyatakan bahwa kedatangan-Nya untuk memberi kesaksian tentang kebenaran (Yoh.18:37b), yaitu kesejatian yang berada di belakang yang dapat ditangkap dengan pancaindera. Sebab sebagaimana telah Ia nyatakan, bahwa kebenaran itu tidak lain daripada sabda Allah (Yoh.17:17). Disamping bahwa belum pernah ada orang yang melihat Allah, Allahlah yang menciptakan segala yang ada, sehingga segala yang ada itu menyatakan Allah.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-2 ini mengingatkan kita, bahwa segala yang ada dan apa pun yang terjadi adalah karya Allah, pernyataan Allah kepada manusia, yang juga ciptaan-Nya tetapi satu-satunya di dunia ini yang mampu mengenali-Nya, karena manusia diciptakan-Nya sebagai pribadi. “Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu – dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan yang mencedok air itu mengetahuinya — ……… Itulah tanda pertama yang dikerjakan Yesus di Kana di wilayah Galilea dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya”.

Mujizat yang dilakukan Yesus, yaitu air menjadi anggur, untuk menolong pengantin dan keluarganya yang kekurangan anggur, adalah tanda, yang juga untuk mengingatkan, bahwa segala yang ada adalah pernyataan Allah. Bukan mujizat itu yang penting, tetapi kebenaran dibelakangnya, yaitu Allah yang menyertai manusia dengan karya-Nya, baik sebagai pernyataan kemuliaan-Nya maupun sebagai pernyataan kehendak-Nya menyelamatkan manusia.

Cara Allah memperkenalkan diri seperti itu merupakan penghargaan Allah terhadap manusia ciptaan-Nya sendiri. Allah menghendaki manusia mengenal Allah juga dengan kemampuannya sendiri. Dengan demikian Allah juga menghendaki, agar manusia mengimani Allah didorong oleh kesadarannya sendiri, karena menyaksikan di alam semesta ini penuh dengan karya dan pernyataan Allah.

Demikian pula rasul Paulus juga menyampaikan, bukan hanya apa yang terjadi di alam ini, tetapi juga yang terjadi dalam diri manusia itu sendiri Allah berkarya. “Saudara-saudara, ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semua dalam semua orang”.

Itulah sebabnya, kadang-kadang kita sendiri terkejut, mengapa dapat bicara seperti itu, atau berbuat seperti itu. ‘Terkejut’ itu peringatan, bahwa Allah berkarya dalam diri kita, Allah tidak membiarkan diri kita berjalan sendiri dengan meraba-raba dalam kegelapan. Allah menuntun manusia kepada diri-Nya, Sang Kebenaran, yang berada dan hadir di belakang segala yang ada dan terjadi.

Dalam arti seperti itu pulalah nubuat nabi Yesaya : “Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya bernyala seperti suluh”. Penyertaan Allah terhadap manusia digambarkannya bagaikan suami yang selalu mendampingi isteri, supaya manusia tidak kesepian berada dalam kegelapan.

Benarkah kita menyadari penyertaan Allah dalam setiap langkah hidup kita? 

 

 

 

 St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: