Renungan Minggu 6 Januari 2013 -Kelahiran Kristus menegaskan bahwa Allah memanggil semua orang untuk keselamatan


misa pembukaan bulan kitab suci 2010 Romo SutoK
elahiran Kristus menegaskan bahwa Allah memanggil semua orang untuk keselamatan

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa terang akan datang atas Yerusalem, karena sesungguhnya dunia dan para bangsa masih tertutup kegelapan, sehingga bangsa-bangsa akan berduyun-duyun datang ke Yerusalem (Bacaan pertama, Yes.60:1-6). Karena itu rasul Paulus merasa bahwa panggilan Allah kepada bangsa-bangsa lain harus ditegaskan dan hal itu menjadi tugasnya (Bacaan kedua, Ef.3:2-3a, 5-6). Demikian pula para sarjana dari Timur yang telah melihat bintang-Nya menangkap panggilan Allah itu dan datang ke Yerusalem, mencari raja bangsa Yahudi yang baru dilahirkan (Bacaan Injil, Mat.2:1-12).

 

Panggilan Allah akan keselamatan berlaku bagi semua orang tanpa kecuali. Dan panggilan itu tertanam dalam hati setiap orang. Disitu pun dosa menyebabkan suara panggilan itu menjadi sayup-sayup. Karena itu Allah memberikan tanda-tanda, agar orang menyadari panggilannya itu, dan manusia perlu berusaha agar hatinya terbuka, sehingga mampu menangkap tanda-tanda dari Tuhan. Namun, disamping keterbukaan hati, untuk dapat tanggap akan tanda-tanda zaman itu perlu latihan, yang sekaligus juga berguna membuka hati manusia yang masih tertutup. Itulah sebabnya Tuhan mengutus para rasul-Nya untuk mengingatkan panggilan itu, karena Allah menghendaki keselamatan semua orang tanpa kecuali.

Pesan perayaan Ekaristi Hari Raya Penampakan Tuhan ini mengingatkan kita bahwa kita sebagai orang yang telah beriman, juga terpanggil untuk memperhatikan dan menolong sesama yang dipanggil Tuhan kepada keselamatan, agar mereka pun menangkap tanda-tanda dari Tuhan akan panggilan mereka itu. Setiap orang beriman terpanggil untuk meneruskan evangelisasi terhadap mereka yang hatinya masih terselubung kegelapan. Seperti pertanyaan para sarjana kepada raja Herodes dan kepada para ahli Taurat sekaligus merupakan peringatan terhadap mereka, bahwa justru merekalah yang pertama-tama dipanggil untuk keselamatan. Tetapi Herodes tidak mau membuka hatinya, bahkan merasa terancam kedudukannya. Ia mempunyai maksud jahat. “Karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain”.

Kejadian seperti itu tidak menyebabkan Allah mundur dan membatalkan kehendak-Nya menyelamatkan semua orang. Kristus menggunakan cara lain, agar orang mau membuka hatinya menerima cinta kasih-Nya. Kristus memilih Saulus, seorang Yahudi tulen, justru untuk menjadi rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. “Kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu,…….,….. bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli waris dan anggota tubuh serta peserta dalam janji yang diberikan dengan perantaraan Kristus”.

Hal ini seperti pepatah ‘Sambil menyelam minum air’. Perutusan rasul Paulus bukan semata-mata kepada bangsa bukan Yahudi, tetapi sekaligus juga untuk mengingatkan bangsa Yahudi, justru mereka yang pertama-tama dipanggil. Dengan cara seperti itu, Kristus menggunakan kebanggaan bangsa Yahudi sebagai bangsa terpilih, agar menjadi sadar, jangan tetap bertegar hati seperti di Meriba, di Masa, waktu mereka melintasi padang gurun. Sebagaimana juga diperingatkan nabi Yesaya : “Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan  datang kepadamu”.

 

Sadarkah kita, bahwa cara seperti itu harus menjadi cara kita pula dalam melaksanakan evangelisasi, bila kita seolah-olah menghadapi jalan buntu karena hati yang rapat tertutup? 

 

         

 

  St. Sutopanitro, Pr

 

Advertisements
%d bloggers like this: