DOA MEDITASI KITAB SUCI / LECTIO DIVINA.

 

 

 

Slide1

 

 

Salah satu kegiatan rutin dari Lingkungan St. Clara 3 & 4, Wilayah St. Clara – Paroki St. Yakobus adalah Doa Meditasi Kitab Suci  (Metode LECTIO DIVINA) yang diadakan setiap hari kamis, mulai pukul 19.30 – selesai di Jalan Janur Elok V, QE 10, No. 5, Kelapa Gading.

Tradisi Gereja Katolik mengenal apa yang disebut sebagai “lectio divina” untuk membantu kita umat beriman untuk sampai kepada persahabatan yang mendalam dengan Tuhan. Caranya ialah dengan mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. “Lectio” sendiri adalah kata Latin yang artinya “bacaan”. Maka “lectio divina” berarti bacaan ilahi atau bacaan rohani. Bacaan ilahi/ rohani ini terutama diperoleh dari Kitab Suci. Maka memang, lectio divina adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci untuk mencapai persatuan dengan Tuhan Allah Tritunggal.

Di samping itu, dengan berdoa sambil merenungkan Sabda-Nya, kita dapat semakin memahami dan meresapkan Sabda Tuhan dan misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui Kristus Putera-Nya. Melalui Lectio divina, kita diajak untuk membaca, merenungkan, mendengarkan, dan akhirnya berdoa ataupun menyanyikan pujian yang berdasarkan sabda Tuhan, di dalam hati kita. Penghayatan sabda Tuhan ini akan membawa kita kepada kesadaran akan kehadiran Allah yang membimbing kita dalam segala kegiatan kita sepanjang hari, dalam kehidupan kita di dunia ini. Jika kita rajin dan tekun melaksanakannya, kita akan mengalami eratnya persahabatan kita dengan Allah. Suatu pengalaman yang begitu indah tak terlukiskan!

       Adapun tahapan dari Lectio Divina tersebut, sebagai berikut :

1. Lectio : Bacaan.

Membaca Kitab Suci, biasanya diambil dari bacaan liturgi harian, dibaca perlahan-lahan dengan segenap hati dan budi, mendengarkan Sabda Tuhan. Menangkap pokok firman yang menyentuh hati, bisa satu ayat, satu kalimat atau satu kata sebagai bahan renungan.

2. Meditatio : Renungan.

Merenungkan pokok Firman Tuhan, mencari dan menemukan kehendak Tuhan bagi hidup kita.

3. Contemplasio : Kontemplasi.

Memasuki ruang keheningan terdalam untuk merasakan kehadiran Tuhan. Biarkan diri kita dalam arus KasihNya, sentuhanNya dan menangkap suaraNya yang lembut.

4. Oratio : Doa.

Menanggapi sentuhan dan Sabda Tuhan, diungkapkan dalam doa, yang terinspirasi dari buah renungan dan kontemplasi dalam bimbingan Roh Kudus.

5. Missio : Perutusan.

Berniat melaksanakan perutusan Tuhan atau kehendakNya yang diberitakan melalui sabda yang diterima dalam Lectio Divina ini.

Bagaimana Doa meditasi  Kitab Suci  dilakukan ?

Doa Meditasi Kitab Suci yang dilakukan di Lingkungan St. Clara, dengan urutan sebagai berikut :

1.  Lagu pembukaan (al. Kuduskan tempat ini, dsb).

 2.  Salam pembukaan oleh pemand

3.  Ibadat Sabda :

            a.  Membuat Tanda Salib , Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

            b.  Semoga  Rahmat  Tuhan kita  Yesus Kristus, cinta kasih  Allah dan  persekutuan  Roh Kudus selalu beserta kita. Dijawab yang hadir sekarang dan selama-lamanya.

             c.  Pengantar dari pemandu berupa ajakan untuk bertobat dengan  memeriksa  batin kita   atas apa saja yang telah kita lakukan. Bila telah melakukan perbuatan baik, bersyukur      dan mohon  Berkat Tuhan  agar dapat senantiasa melakukan perbuatan baik,  apabila  telah melakukan  perbuatan kurang baik  atau dosa, mohon ampun pada Tuhan.

      

4.  Hening sejenak untuk memeriksa batin kita.

5.  Mohon ampun pada Tuhan (al. Saya Mengaku ……… atau Doa tobat lainnya.).

6.  Tuhan Kasihanilah kami, ………….

7.  Lagu penganrtar Injil  (al. FirmanMu, dsb….).

 8.  Membaca Kitab Suci  (diambil dari Bacaan Injil liturgi harian).

 9.  Setelah membaca Kitab Suci / Firman Tuhan, peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok   kecil (4-5 orang/kelompok), untuk mensharingkan Firman Tuhan atas pengalaman-pengalaman iman akan Kasih Tuhan, inti Firman Tuhan atau kalimat dan kata dalam Firman Tuhan yang menyentuh hati kita

10.  Selesai sharing, kemudian masuk dalam  Doa Kontemplasi (Doa Hening),  dengan urutan   sebagai berikut :

            a.  Menyanyikan lagu  berhembuslah Roh Kudus,  atau  lagu lain  yang mengundang Roh  Kudus untuk hadir.

            b.  Pemandu  (kontemplator)  mengajak  untuk  memandang  wajah  Yesus  yang ada di depan atau nyala lilin yang menandakan kehadiran Tuhan.

            c.  Berdoa dan mengucap syukur menurut  keperluan masing-masing  dan mohon ampun  atas  dosa-dosa  kita,   mengampuni  orang-orang   yang  telah  menyakiti  hati  atau   mengecewakan kita.

            d.  Kedua tangan  dikatubkan  didada dengan  mata jasmani  terpejam,  kemudian  membungkukkan  badan  seraya berkata  kasihanilah aku ya Tuhan,  ampunilah aku orang berdosa ini. Kemudian badan kembali ditegakkan seperti semula.

            e.  Tuhan  memberikan  nafas  baru  bagi kita,  tarik nafas  dalam-dalam  melalui  hidung  tahan di dada kemudian dihembuskan perlahan-lahan melalui mulut (rileks).   Hal in diulang 4-5 kali sambil dirasakan Tuhan memberi nafas baru bagi kita.

            f.   Mengangkat kedua tangan  setinggi-tingginya sambil menyanyikan Halelluyah, Pujilah   Tuhan dsb.  Pemandu terus  mengajak  merasakan kehadiran  Tuhan dan merasakan   Roh Kudus hadir menjamah kita, memulihkan kita.

            g.  Masuk dalam  keheningan (kontemplasi),  diiringi  musik  yang lembut  dan  dilakukan   selama 10-15 menit.  Biasanya  dalam  kontemplasi ini  ada  tim doa  utntuk  mendoakan bagi peserta yang ingin didoakan.

            h.  Selesai kontemplasi dilanjutkan dengan Doa Bapa Kami & Salam Maria.

            i.   Menyanyikan ucapan syukur pada Bapa, Yesus, Roh Kudus dan Bunda Maria.

            j.   Pemandu  menyampaikan  pada  para  peserta  untuk  membuat  niat-niat suci, tekun membaca Firman Tuhan dan melakukannya. Apabila ada peserta yang mengalami kasih Tuhan dalam  kontemplasi tersebut, dapat  mensharingkan setelah selesai kontemplasi tersebut.

Sharing Firman

Contoh merenungkan Alkitab dengan Lectio divina

Mari kita melihat bacaan Injil, yang diambil dari Matius 18:21-19:2. Di dalam perikop tersebut diceritakan perumpamaan tentang pengampunan. Pada saat kita merenungkan perikop ini, maka kita dapat bertanya pada diri sendiri, apakah yang Tuhan inginkan agar kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari?

Maka kita bisa membayangkan salah satu tokoh dalam perikop itu, misalnya, kita menjadi hamba itu yang berhutang sepuluh ribu talenta. Namun oleh belas kasihan raja [yaitu Tuhan], maka hutang hamba itu dihapuskan. Namun kemudian kita berjumpa dengan orang yang telah menyakiti hati kita, dan kita merasa sulit untuk mengampuni. Dengan demikian, kita bersikap seperti hamba itu, yang walaupun sudah diampuni dan dihapuskan hutangnya, namun tidak dapat/ sukar mengampuni orang lain.

Mari dengan jujur melihat, apakah kita pun pernah atau sering bersikap seperti hamba yang tidak berbelas kasihan ini?  Siapakah kiranya orang yang Tuhan inginkan agar kita ampuni? Tanyakanlah kepada Tuhan dalam hati, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku, adakah aku pernah bersikap demikian? Siapakah yang harus kuampuni…?

Sambil terus merenungkan ayat demi ayat dalam perikop tersebut, bercakap-cakaplah dengan Tuhan dalam keheningan batin. Mungkin Tuhan ingin mengingatkan kita akan ayat ini, “Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti Aku telah mengasihani engkau?” (Mat 18:33). Jika ayat itu yang sungguh berbicara pada kita hari ini, maka kita mengingatnya dan mengulanginya kembali dalam hati, sebagai perkataan Tuhan yang ditujukan kepada kita. Dan semakin kita merenungkannya, semakin hiduplah perkataan itu di batin kita, dan bahkan kita dapat mendapat dorongan untuk menerapkannya.

Atau jika pada saat ini kita masih terluka atas perlakuan seseorang kepada kita, maka, kitapun dapat membawanya ke hadapan Kristus. Kita dapat pula menyatakan kepada-Nya, betapa kita ingin mengampuni, namun rasa sakit masih begitu mendalam dan nyata dalam hati kita. Maka, mungkin ayat yang berbicara adalah beberapa ayat sesudahnya yang berkata, “Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana.” (Mat 19:2).

Kita dapat membayangkan bahwa kita berada di antara orang yang berbondong-bondong itu, dan memohon agar Ia menyembuhkan luka-luka batin kita. Biarlah ayat Mat 19:2 meresap dalam hati kita, dan kita ulangi berkali-kali sepanjang hari, “…. dan Tuhan Yesus-pun menyembuhkan luka-luka batinku di sana.” Biarkan jamahan Tuhan yang menyembuhkan banyak orang pada 2000 tahun yang lalu menyembuhkan kita juga pada saat ini. Dengan kita mengalami kesembuhan batin, maka sedikit demi sedikit Tuhan membantu kita untuk bisa mengampuni, sebab kekuatan kasih-Nya memampukan kita melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita sebagai manusia.

Memang, pada akhirnya, lectio divina ini tidak akan banyak berguna jika kita berhenti pada Meditation/ Permenungan, tapi tanpa langkah selanjutnya. Kita harus menanggapi apa yang Tuhan sampaikan lewat sabda-Nya, dan membuat keputusan tentang apakah yang akan kita lakukan selanjutnya, setelah menerima pengajaran-Nya. Maka langkah berikut, kita dapat mengadakan percakapan / Oratio  (Doa) yang akrab dengan Tuhan Yesus, entah berupa ucapan syukur, pertobatan, atau permohonan, yang semua dilakukan atas dasar kesadaran kita akan besarnya kasih Tuhan kepada kita.

Kesadaran akan kasih Kristus inilah yang sedikit demi sedikit mengubah kita, dan mendorong kita untuk juga memperbaiki diri, supaya dapat mengikuti teladan-Nya untuk hidup mengasihi orang-orang di sekitar kita, terutama anggota keluarga kita sendiri: suami, istri, orang tua, dan anak-anak. Kasih-Nya ini pula yang membangkitkan di dalam hati kita rasa syukur, atas pengampunan dan pertolongan-Nya pada kita. Dengan memandang kepada Yesus, kita dapat melihat dengan jujur ke dalam diri kita sendiri, untuk menemukan hal-hal yang masih harus kita perbaiki, agar kita dapat hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid- murid-Nya.

Jika melalui lectio divina akhirnya kita mampu mengalahkan kehendak diri sendiri untuk mengikuti kehendak Allah, maka  kita perlu sungguh bersyukur. Sebab sesungguhnya, ini adalah karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup kita. Perubahan hati, atau pertobatan terus menerus yang menghantar kita lebih dekat kepada Tuhan dengan sendirinya mempersiapkan kita untuk bersatu dengan-Nya dalam contemplatio. Dalam contemplatio ini, hanya ada Allah saja di dalam hati dan pikiran kita. Kerajaan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kehendak-Nya sepenuhnya menjadi kehendak kita. “Jadilah padaku ya Tuhan, menurut kehendak-Mu….” Dan dalam keheningan dan kedalaman batin kita masuk dalam persatuan dengan Dia.

Jika arti doa yang sesungguhnya adalah “turun dengan pikiran kita menuju ke dalam hati, dan di sana kita berdiri di hadapan wajah Tuhan, yang selalu hadir, selalu memandang kita, di dalam diri kita.”, maka contemplatio adalah puncak doa. Ini adalah saat di mana kita memandang Yesus dengan pandangan iman: “Aku memandang Dia dan Dia memandangku.” Pandangan kepada Yesus ini adalah suatu bentuk penyangkalan diri, di mana kita tidak lagi menghendaki sesuatu yang lain daripada kehendak Allah. Dengan pandangan ini kita mempercayakan seluruh diri kita ke dalam tangan-Nya, dan kita semakin terdorong untuk mengasihi dan mengikuti Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita.

Apa buah-buah dari Lectio divina?

Buah-buah dari Lectio divina adalah Compassio dan Operatio. Dengan persatuan kita dengan Tuhan, maka kita membuka diri juga untuk lebih memperhatikan dan mengasihi sesama dan ciptaan Tuhan yang lain. Kita juga didorong untuk melakukan tindakan nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan, ataupun untuk selalu mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Dengan demikian perbuatan kita menjadi kesatuan dengan doa kita, atau dengan perkataan lain kita memiliki perpaduan sikap Maria dan Martha (lih. Luk 10:38-42).

Mari, memulai perjalanan iman dengan Lectio divina

Jika kita membaca pengalaman para orang kudus, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka menerapkan lectio divina dalam kehidupan rohani mereka. Diakui bahwa perjalanan menuju contemplatio bukan sesuatu yang mudah, karena memerlukan disiplin dan kesetiaan kita untuk menyediakan waktu untuk berdoa. Namun demikian, sesungguhnya setiap orang dapat mulai menerapkan lectio divina ini dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang keliru jika berpikir bahwa membaca dan merenungkan Alkitab secara pribadi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang tingkat pendidikan yang tinggi tentang Alkitab. Kenyataannya, sebagian besar perikop Kitab Suci tidak sulit di-interpretasikan. Bahkan perikop yang mengandung ayat yang sulit sekalipun, akan tetap berguna untuk direnungkan. Maka sesungguhnya, tidak ada alasan bagi kita untuk malas membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kita dapat menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk berdoa dan untuk menjadi penuntun sikap kita sehari-hari. Membaca atau menghafalkan ayat- ayat Alkitab adalah sesuatu yang baik, tetapi alangkah lebih baik jika kita meresapkannya dan membiarkan hidup kita terus menerus diubah olehnya. Tentu, ke arah yang lebih baik, agar kita semakin dapat mengikuti teladan Kristus Tuhan kita.

kontemplasi

Demikian Doa Meditasi Kitab Suci dengan Doa Kontemplasi yang dilakukan di Lingkungan St. Clara 3 & 4 ini. Dan sudah banyak buah-buah Kasih Tuhan Yesus yang didapatkan oleh para peserta, yang datang dengan niat tulus dan dengan iman yang teguh serta penyerahan diri sepenuhnya, untuk segala permasalahan hidup dalam keluarga, baik mengenai pekerjaan, pendidikan anak-anak dan pada perubahan pribadi-pribadi dalam kehidupan keseharian serta kesembuhan dari berbagai penyakit.

Untuk informasi dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi :

0816 925 075. /0878 7860 8698./ 0816 704 320/   0816 791 477/       0856 7814 000.      /   0811 180 822./      0811 957 378.   /           0816 838 339.       /          0812 937 4741./  0816 866 878.   /      0878 8018 2288.    /    0818 786 355

Oleh : F X. Hindarko (Clara IV)
Advertisements
%d bloggers like this: