Renungan Minggu16 Desember 2012-Kegembiraan Imani akan menyadarkan kita atas kehadiran Kristus dan karya penyelamatan-Nya.

                           misa pembukaan bulan kitab suci 2010 Romo SutoKegembiraan Imani  akan menyadarkan kita atas kehadiran Kristus dan karya penyelamatan-Nya.

 

Nubuat nabi Zefanya mengajak kita untuk tidak takut lagi dan bergembira dengan sepenuh hati atas kehadiran Allah di tengah-tengah kita, yang akan membebaskan kita dari hukuman dan malapetaka (Bacaan pertama, Zef.3:14-18a). Sebagaimana juga dianjurkan oleh rasul Paulus, agar kita bergembira dan tidak kuatir akan apa pun, sebab damai sejahtera Allah yang mengatasi pemikiran kita akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus (Bacaan kedua,        Flp.4:4-7). Karena itu kita harus menerima dengan sukacita dan penuh syukur apapun, yang merupakan hasil dari pekerjaan dan usaha kita, sebab kita telah dibaptis oleh Kristus dengan Roh Kudus dan api (Bacaan Injil, Luk.3:10-18).

Tidak ada kegembiraan yang dialami manusia yang melebihi kegembiraan karena Allah menyertai kita. Sebab kesatuan kita dengan Allah itulah dasar keselamatan, hidup, kesucian, kemuliaan dan kebahagiaan kita. Sebagaimana janji-Nya Kristus menyertai kita untuk terus berkarya menyelamatkan melalui Sakramen-Sakramen-Nya, terutama Sakramen Ekaristi, sampai akhir zaman.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Adven ke-3 ini mengingatkan kita, bahwa kita harus menyadari ketidak berdayaan kita, sehingga hanya oleh kemurahan hati Allah kita mendapat mengampunan atas dosa-dosa kita dan penebusan atas hidup kita yang sudah tak berdaya untuk mencapai hidup abadi.

Oleh karena itu kita harus merawat dan mengembangkan apa yang telah kita terima itu dengan penuh syukur. Sebab disamping pengampunan dan penebusan itu, Allah juga tetap memperlakukan kita sebagai pribadi yang berdaulat, yang berarti dihargai Allah, meskipun itu juga berarti bagi kita harus bertanggungjawab dengan rela menerima akibat dosa selama di dunia ini. Namun apakah artinya itu bila dibandingkan dengan kemurahan hati Allah yang tetap menghendaki kita hidup abadi. Secara konkrit cara merawat apa yang telah kita terima itu dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis demikian : “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membagikannya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian. ……… Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu”.

Senada dengan Yohanes Pembaptis Rasul Paulus juga menasehati, tetapi lebih dalam sikap terhadap Tuhan. Kita harus bersyukur dan dengan gembira berbuat baik, sebab penyelamatan Allah itu sudah mendekati paripurna. Jangan kita menunda-nunda dalam merawat anugerah yang telah kita terima itu. “Jangan hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”.

Allah tidak pernah berhenti berkarya menyelamatkan kita, sebagaimana dijanjikan-Nya, bahwa Kristus akan menyertai kita sampai akhir zaman. Bahwa Allah terus hadir dan berkarya di tengah-tengah kita ini telah dinubuatkan oleh nabi Zefanya. “Bergembiralah, hai Israel! Bersukacitalah dan berria-rialah dengan segenap hati, hai Yerusalem! Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yaitu Tuhan, ada                di antaramu, engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi”.

Yang perlu kita sadari dalam hal ini ialah, bahwa karya penyelamatan Allah itu berlangsung dalam proses hidup manusia selama di dunia ini. Dan kita manusia diajak bekerja-sama, sebab kita memang seharusnya bertanggung-jawab atas akibat dosa itu. Karya penyelamatan Allah itu harus kita sambut dan kita wujudkan, agar semakin meresap penghayatan kita dan semakin memancar, sehingga dapat disaksikan oleh orang lain (bdk. Mt.5:16).

Memang bagi kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini, karya penyelamatan itu merupakan perjuangan, sebab masih dalam proses, sekalipun sudah terlaksana, tetapi belum paripurna. Namun kita sendiri akan dapat semakin dalam menghayatinya dan orang lain semakin dapat menyaksikannya, bila kita jalani dengan ucapan terima kasih (syukur) yang terpancar dari kegembiraan kehidupan kita.

Sadarkah kita , bahwa bila kita berjuang dengan gembira akan terasa lebih ringan?

 

            St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: