Renungan harian 6 desember 2012 -”Bukan setiap orang yang berseru ke­pa­da-Ku: Tuhan, Tuhan! akan mas­uk ke dalam Kerajaan Sorga, me­lain­kan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

IMG_1213Kamis, 6 Desember 2012
Pekan ADVEN I (U)
St. Nikolas dr Myra

 

Yes 26:1-6,
Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27a,
Mat 7:21,24-27
Bacaan Injil    : Mat. 7:21.24–27

”Bukan setiap orang yang berseru ke­pa­da-Ku: Tuhan, Tuhan! akan mas­uk ke dalam Kerajaan Sorga, me­lain­kan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  Setiap orang yang mendengar per­ka­taan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda ru­mah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh se­bab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah keru­sakannya.”

Renungan
Suatu hari ada seorang calon baptis yang bertanya: ”Romo, apakah dengan dibaptis menjadi orang Katolik, saya pasti masuk surga?” Kiranya Injil hari ini memberi jawaban atas pertanyaan tersebut. Iman memiliki dua dimensi: ungkapan iman dan perwujudan iman. Ungkapan iman terkait dengan berbagai cara kita mengungkapkan iman melalui doa dan ritual-ritual keagamaan kita. Persis pada poin ini Yesus menegaskan, ”Bukan orang yang berseru Tuhan, Tuhan! Akan masuk kerajaan surga”. Namun, ungkapan iman harus dilengkapi dengan ”melakukan kehendak Bapa”. Inilah yang disebut dengan perwujudan iman, suatu bentuk perbuatan-perbuatan nyata sebagai wujud dan bukti iman kita.
Dalam sebuah seminar rohani, yang dipandu seorang Pastor, ada yang bertanya demikian: ”Romo, bagaimana caranya supaya kita bisa masuk surga?” Sejujurnya Pastor itu agak takut untuk menjawab karena nanti berkesan sok suci dan sok tahu. Tetapi, bagaimanapun juga seorang pastor harus menerangkan hal-hal semacam ini kepada umat yang bertanya. Ia pun mengacu pada ”arah dasar Keuskupan Agung Jakarta” bahwa umat Katolik harus memiliki 3 dimensi pokok dalam hidup berimannya: (1) iman mendalam yang bersumber pada sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi; (2) memiliki persaudaraan atau komunitas yang inklusif; (3) aktif membangun solidaritas sosial untuk membantu sesama yang sedang sulit hidupnya. Maka, jalan menuju Surga adalah memiliki ketiga dimensi itu secara seimbang.
Kerohanian bukan pertama-tama diukur dari seberapa banyak kita berdoa atau bernyanyi lagu-lagu rohani (spiritualistis), namun pada ekstrem yang lain, tidak bisa juga diukur sekadar dari perbuatan-perbuatan kita (aktivisme). ”Holiness” sangat dekat dengan ”wholeness”. Kesucian hidup adalah sesuatu yang sifatnya menyeluruh dan seimbang. Apa yang diungkap dalam kata-kata harus terwujud dalam perbuatan. Itulah jalan kesucian yang Tuhan kehendaki.
Ya Tuhan, Engkau menghendaki aku untuk mencintai-Mu dengan sepenuh diriku, bukan sekadar dengan kata-kata, namun juga melalui perbuatan nyata. Jauhkanlah aku dari sikap seperti orang Farisi yang hanya menampilkan kesucian dalam ritual-ritual, tetapi tidak pernah mewujudkannya dalam perbuatan sehari-hari. Amin.

Sumber : Ziarah batin 2012

Advertisements
%d bloggers like this: