Renungan Minggu 18 November 2012-Akhir zaman adalah peralihan hidup manusia sebagai gambar ke hidup sejati yang abadi atau ke kematian abadi.

Akhir zaman adalah peralihan hidup manusia sebagai gambar      ke hidup sejati yang abadi atau ke kematian abadi.

 

Pada akhir zaman akan terjadi kesesakan hebat yang belum pernah terjadi, tetapi Mikael akan mendampingi dan memimpin bangsa terpilih yang bijak menuju kebenaran yang bercahaya selama-lamanya (Bacaan pertama, Dan.12:1-3). Itulah saat digenapinya Kristus mengalahkan musuh-musuh-Nya secara paripurna, yaitu dikuduskan-Nya manusia secara sempurna dengan menerima pengampunan dosa mereka dan berakhirlah persembahan kurban (Bacaan kedua, Ibr.10:1-14,18). Maka Kristus memperingatkan kita, agar tanggap akan tanda-tanda berakhirnya zaman itu, yaitu terjadinya malapetaka besar yang mengawali kebinasaan dunia dan segala isinya serta hasil karya tangan manusia (Bacaan Injil, Mrk.13:24-32).

 

Dunia dan alam semesta ini merupakan sesuatu yang jasmani, yang diciptakan Allah. Manusia yang termasuk di dalamnya, dengan panca inderanya dapat melihat, menangkap, mendengar dan merasakan semuanya itu. Tetapi karena manusia itu juga roh, manusia juga dapat menangkap yang dibelakang dunia ini yang tidak kelihatan, yaitu Allah, Sang Pencipta. Ini menunjukkan apa yang jasmani ini merupakan tanda, perwujudan sesuatu yang bersifat rohani. Bahkan manusia yang juga memiliki tubuh jasmani, sebenarnya dikehendaki Allah agar merohanikan kejasmaniannya itu. Itulah proses hidup manusia di dunia ini.

Karena dosa manusialah terjadi keretakan antara yang rohani dan jasmani, dan akhirnya akan terpisah sama sekali, manusia mati. Yang jasmani, termasuk tubuh manusia, bersifat nisbi, akan menjadi tua, rusak dan akhirnya binasa. Namun Kristus menebus hidup manusia dan mengampuni dosanya, sehingga terbuka bagi manusia untuk ikut bangkit bersama Kristus. Karena yang disebut manusia ialah jasmani yang merohani.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-33 ini mengingatkan kita, bahwa segala yang duniawi ini, meskipun merupakan yang jasmani dan bersifat nisbi serta bukan bagian dari manusia, menyatakan sesuatu yang rohani yang tidak dapat ditangkap dengan pancaindera, yaitu Allah dan

kehendak-Nya. Karena manusia itu roh, manusialah yang mampu menangkap Allah dan kehendak-Nya yang berada di  dibelakang yang duniawi itu.

Hidup manusia di dunia ini adalah proses, maka terjadi perubahan terus menerus. Segala yang terjadi adalah perubahan yang mempunyai makna, atau dapat dikatakan ‘menandakan sesuatu’. Dilihat dari sisi itu manusia mempunyai peran relatif besar langsung atau tidak langsung akan terjadinya perubahan atau peristiwa.

Setiap saat kita menyaksikan perubahan (peristiwa). Paling tidak kita dapat mencari, apakah kita mempunyai peran disitu. Dengan demikian kita dapat introspeksi, sebab hal itu merupakan peringatan bagi kita, sekurang-kurangnya mengingatkan kita, bahwa keduniawian ini nisbi dan akan binasa. Bahkan orang-orang tua kita juga menasehati, agar kita melatih diri untuk mampu menangkap makna dan pesan yang disampaikan oleh setiap peristiwa atau perubahan. Karena maknanya dapat digunakan oleh Allah untuk menyatakan kehendak-Nya. Kemampuan seperti itu akan menuntun kita kepada hidup yang bijak.

“Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat”.

Dengan menyampaikan hal itu Kristus mau menunjukkan, bahwa Allah sendiri mempunyai rencana dan terus berkarya, yang tujuan dan arahnya tidak lain daripada keselamatan manusia. Karya penyelamatan Kristus yang telah dimulai 2000 tahun yang lalu itu terus berjalan dan baru akan paripurna pada akhir zaman. Disitulah manusia akan menyaksikan hidup sejati yang selama di dunia ini hanya dilihat dalam tanda. “Tetapi Kristus, setelah mempersembahkan hanya satu kurban saja karena dosa, ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, dimana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya”.

Maka perubahan yang menjadi tanda dan memberi pesan akan akhir zaman itu berarti perubahan yang total, artinya bukan hanya perubahan sesuatu atau banyak hal, seperti gunung meletus sampai perubahan musim atau melelehnya gunung es di kutub, melainkan perubahan seluruh alam ini, sebab alam yang nisbi ini akibat dosa manusia akan musnah. Maka Kristus menyatakan dengan ‘malapetaka besar’, yang juga dinubuatkan oleh nabi Daniel sebagai malapetaka yang belum pernah terjadi.

“Pada masa itu akan muncul Mikael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu”. Akhir zaman adalah paripurnanya karya penyelamatan Kristus. Karena itu juga disebut ‘pengadilan umum’, seluruh umat manusia diadili sesuai dengan bagaimana manusia berproses membangun dirinya.

 

Sadarkah kita, mengapa kita selalu menyatakan setiap sesudah konsekrasi pada Misa Suci ‘merindukan kedatangan Kristus di akhir zaman’?

 

St. Sutopanitro, Pr

 

Advertisements
%d bloggers like this: