Renungan Minggu 11 November 2012-Mendahulukan kehendak Allah dalam setiap langkah hidupnya, itulah penyerahan diri yang bulat kepada Allah

Mendahulukan kehendak Allah dalam setiap langkah hidupnya, itulah penyerahan diri yang bulat kepada Allah.

Janda miskin yang mendahulukan nabi Elia daripada hidupnya sendiri dan hidup anaknya karena nabi adalah abdi Tuhan, diterima dan dihargai oleh Allah sebagai penyerahan diri yang bulat kepada-Nya sendiri (Bacaan pertama,             1Raj.17:10-16). Sebagaimana Kristus, juga mendahulukan kehendak Bapa-Nya dengan mempersembahkan hidup insani-Nya langsung kepada Allah Bapa         di Surga, cukup sekali demi keselamatan seluruh umat manusia (Bacaan kedua, Ibr.9:24-28). Oleh karena itu kita tidak dapat munafik di hadapan Tuhan, karena Tuhan mengetahui kedalaman hati kita, sedang persembahan hidup dapat menandakan bermacam-macam, bahkan dapat kebalikannya (Bacaan Injil, Mrk.12:38-44).

Mencintai dan berkurban itu keduanya memberi, menyerahkan sesuatu. Pemberian kepada Allah, apakah itu cinta, apakah itu kurban, haruslah utuh, bulat, seratus persen, tidak dapat dikurangi atau disisihkan untuk sesuatu atau orang lain, termasuk untuk dirinya sendiri, sekalipun hanya satu per seratus persen. Sebab segala sesuatu adalah milik Allah.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-32 ini mengingatkan kita, bahwa manusia itu tidak mungkin berjasa kepada Allah, tidak mungkin memberi sesuatu kepada Allah, segala sesuatu adalah milik Allah. Seluruh apa yang ada pada diri kita adalah pinjaman dari Allah, yang dikatakan rasul Paulus dengan hutang, karena harus kita kembalikan. 

Bila orang percaya bahwa segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri, adalah ciptaan Allah, seharusnyalah orang juga mengakui, bahwa ia pun milik Allah, yang harus dikembalikan, diserahkan kembali kepada Pemiliknya. Sekilas, tampaknya Allah itu Egois –  meskipun demikian juga tidak salah – namun sebenarnya tidak. Sebab Allah menciptakan alam semesta dengan segala isinya, termasuk manusia, bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan semata-mata untuk manusia dan juga semata-mata berkat kemurahan hati-Nya. Allah menghendaki manusia ikut ambil bagian pada hidup ilahi yang abadi.

Karena Allah adalah Pencipta, Allah mengetahui kedalaman hati manusia, yang menentukan nilai perbuatan atau ucapannya, yang dapat berubah-ubah. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya”.

Apa yang diberikan adalah tanda dari apa yang ada dalam hatinya. Maka ukuran nilainya bukan uang atau banyaknya barang yang diberikan, melainkan ukurannya adalah apa yang ada dalam hatinya. Orang dapat mengelabui orang lain, tetapi tidak akan mungkin mengelabui Allah.

Seperti halnya apa yang dilakukan Kristus bagi manusia. Ia adalah Allah-Manusia, yang tidak berdosa, yang datang ke dunia semata-mata untuk melaksanakan kehendak Allah Bapa yang bermurah hati kepada manusia; Ia adalah Sang Sabda yang oleh Dia, untuk Dia dan dalam Dia segala sesuatu diciptakan. Kristus rela memberikan hidup insani-Nya dengan penderitaan yang begitu mengerikan, semata-mata demi kepentingan manusia. Itulah pemberian yang tak ternilai, yang menandakan cinta-Nya yang sedemikian besar. “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang”.

Allah akan melimpahkan pahala-Nya bukan hanya nanti di surga, tetapi juga di dunia ini bagi mereka yang melakukan sesuatu dengan tulus karena iman kepada Allah. Maka jikalau Kristus dengan melaksanakan kehendak Bapa-Nya itu Ia dibangkitkan dan diangkat ke surga serta duduk di sebelah kanan Bapa, demikian pula wanita miskin yang memberikan roti kepada nabi Elia, karena nabi adalah seorang abdi Tuhan, ia tidak kekurangan makan. “Sebab beginilah firman Tuhan, Allah Isreal : tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberi hujan ke atas muka bumi”.

Sadarkah kita, bahwa mendahulukan kerajaan Allah dalam setiap langkah hidupnya di dunia ini, nilainya ditentukan oleh apa yang ada dalam hatinya, bukan apa yang semata-mata dilakukannya?

 

St. Sutopanitro, Pr

 

Advertisements
%d bloggers like this: