Renungan harian 3 November 2012-barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Sabtu, 3 November 2012
Pekan Biasa XXX (H)
St. Martinus de Porrez; St. Hubertus;
B. Pius Campidelli; B. Rupert Mayert

 

Flp 1:18b-26,
Mzm 42:2,3,5bcd,
Luk 14:1,7-11
Bacaan Injil    : Luk. 14:1.7–11

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehor­matan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: ”Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan
Dunia mengukur baik buruknya hidup kita dengan mengukur berapa banyak yang bisa kita kumpulkan: harta milik, rumah, tanah, kendaraan, uang, koleksi, warisan, dan banyak lagi. Kristus mengukur kita dengan ukuran yang sebaliknya: berapa banyak yang bisa kita berikan, lepaskan, bagikan demi hidup orang banyak. Dengan ukuran ini, kita pun diyakinkan bahwa Kristus dimuliakan di dalam tubuh kita, baik oleh hidup, maupun oleh mati kita. Lebih tegas lagi, bagi kita hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.
Banyak patokan lain menjadi tidak terlalu menentukan. Kita bahkan ditantang untuk secara sadar melawan kecenderungan yang muncul secara spontan saat kita mengikuti patokan lain. Jika kita ingin mencari tempat terhormat, kita justru harus melatih diri kita untuk memilih tempat yang paling rendah. Hadiah istimewa akan kita terima. Tuhan sebagai tuan rumah yang mengundang pesta akan mendatangi kita dan menyebut kita sebagai sahabat istimewa-Nya yang harus duduk di baris terdepan.
Yesus, kupersembahkan dahagaku akan kehormatan dunia. Berikan padaku dahaga akan Engkau saja, dan perkenankan aku datang memandang-Mu. Amin.

Sumber : Ziarah Batin 2012

Advertisements
%d bloggers like this: