Renungan harian 23 Oktober 2012- “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang.”

Selasa, 23 Oktober 2012
Pekan Biasa XXIX (H)

St. Yohanes dr Kapistrano;  Para Suster Ursulin dr Valenciennes;
St. Guliemus dan B. Yohanes Bono

 

 

Ef 2:12-22,
Mzm 85:9ab-10,11-12,13-14,
Luk 12:35-38
Bacaan Injil    : Luk. 12:35–38

”Hendaklah pinggangmu tetap ber­ikat dan pelitamu tetap me­nya­la. Dan hendaklah kamu sama se­perti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Se­sung­guhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mem­persilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.”

 

Ef 2:12-22

bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.
Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.
Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”,
karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Renungan
Kebahagian seorang hamba adalah ketika dia bisa melayani tuannya dengan baik. Entah ketika dia melayani tuannya saat makan atau saat membukakan pintu gerbang bagi tuannya yang mau masuk rumah. Ini bisa terjadi kalau dia selalu siap sedia. Gambaran antara hamba dan tuan ini dipakai oleh Yesus untuk mengingatkan kita bagaimana kita harus bersikap dalam menantikan kedatangan Tuhan. Tuhan itu datang dengan tidak terduga maka kita harus selalu siap sedia. Bagaimana kita siap sedia? Kesiapsediaan digambarkan seperti seorang hamba yang selalu berikat pinggang dan menyalakan pelita. Dalam konteks sekarang, kesiapsediaan itu bisa dilakukan dengan senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dengan perbuatan-perbuatan baik itu, kita menantikan kedatangan Tuhan. Apakah berbuat baik itu hanya untuk menantikan Tuhan?

Paulus memberi motivasi lain mengapa kita harus berbuat baik. Kita diingatkan oleh Paulus bahwa kita adalah anggota keluarga para kudus, anggota keluarga Allah. Bahkan kita adalah bait kudus Allah yang dibangun di atas Yesus sebagai batu sendinya. Dengan status itu, konsekuensinya kita juga termasuk orang-orang yang bersih, orang-orang suci. Masakan orang-orang suci akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak suci? Karena itulah, melakukan perbuatan-perbuatan baik menjadi satu-satunya cara untuk menjaga kekudusan kita. Malu kalau sebagai anggota keluarga Allah, perbuatan harian kita justru menyimpang dari jalan-jalan Allah.

Doa: Tuhan, semoga aku senantiasa sadar bahwa aku adalah anggota keluarga Allah. Semoga kesadaran itu mendorongku untuk senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan baik. Amin.

Sumber : Ziarah Batin 2012

Advertisements
%d bloggers like this: