Renungan Minggu 21 Oktober 2012-Bertanggung-jawab bagi manusia ialah menghadapi dan mengatasi dosa dan akibatnya.

Bertanggung-jawab bagi manusia ialah menghadapi dan mengatasi dosa dan akibatnya.

 

Nubuat nabi Yesaya menyatakan, bahwa Mesias akan mengurbankan diri-Nya sebagai kurban pepulih dan tebusan bagi  manusia, yaitu mengampuni dosa manusia dan menebus hidup manusia (Bacaan pertama, Yes.53:10-11). Itulah sebabnya Kristus adalah Imam Agung, yang sekalipun tidak berdosa, namun menanggung segala akibat dosa manusia, agar kita pun berani mengikuti jejak-Nya untuk mendapatkan kasih karunia-Nya (Bacaan kedua, Ibr.4:14-16). Sebab Ia datang memang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia (Bacaan Injil, Mrk.10:35-45).

 

Hanya Kristus yang dapat mengampuni dosa manusia, karena Ia Allah dan hanya Kristus pula yang dapat mengurbankan diri-Nya sebagai tebusan untuk hidup manusia, karena Ia adalah Manusia yang tidak berdosa.        

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-29 ini mengingatkan kita, bahwa dalam imannya kepada Allah manusia juga mengakui kepapaan dan ketidak-berdayaannya disebabkan karena menusia berdosa terhadap Allah. Maka bertanggung-jawab bagi manusia berarti mau menanggung akibat dosa itu, yang sekaligus sebagai tanda pertobatannya. “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”.

Kurban Kristus adalah satu-satunya kurban yang mampu menebus hidup manusia, agar manusia, yang mau ikut ambil bagian pada kurban-Nya, menerima benih hidup abadi kembali. Kurban Kristus adalah satu-satunya kurban abadi, yang terus menerus dilestarikan Gereja sampai akhir zaman. Sebab Kristus bukan hanya Manusia yang tidak berdosa, tetapi juga Allah Putera sendiri, yang mengurbankan hidup insani-Nya sendiri bukan dengan mengurbankan hidup anak domba atau sapi. Dengan demikian semua orang dari seluruh dunia dan segala zaman dapat ikut mengambil bagian pada kurban Kristus untuk menerima pengampunan dan sekaligus juga kekuatan baru, yaitu hidup Kristus sebagai benih hidup abadi. “Sebab Imam Agung yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama seperti kita. Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”.

Sekalipun Ia tidak berdosa, namun Ia memberi teladan kepada kita, manusia yang berdosa, yaitu bahwa kita harus berani bertanggung-jawab. Bukan hanya mau menerima akibat dosa, yaitu penderitaan apapun bentuknya dan kematian, tetapi juga mengakui kedosaannya, yang kadang-kadang sangat berat, karena menurut pandangan dunia ini pengakuan itu merendahkan martabatnya. Dengan demikian akibat dosa itu, menjadi jalan untuk mengembangkan benih hidup abadi yang telah kita terima kembali untuk mencapai hidup abadi yang paripurna. “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas, dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka akan dipikulnya”.

Bila kita menyatukan tanggung-jawab kita itu dengan pengurbanan Kristus, kita bukan hanya menyelamatkan diri kita sendiri, tetapi juga menyelamatkan sesama kita. Sebab bila kita menyatukan tanggung-jawab kita itu dengan kurban Kristus, berarti kita mewartakan kematian Kristus di salib itu sebagai tebusan atas dosa umat manusia.

 

Sadarkah kita, bahwa mengimani Kristus sebagai Juruselamat itu berarti mewartakan Allah yang maharahim kepada sesama?   

 

 

St. Sutopanitro, Pr

 

 

Advertisements
%d bloggers like this: