Renungan Minggu 14 Oktober 2012-Memilih hanya melekat pada Allah itulah kebijakan yang menyelamatkan.

Memilih  hanya  melekat  pada Allah  itulah   kebijakan   yang  menyelamatkan.

 

Roh pengertian dan kebijakan jauh lebih utama dari pangkat. kedudukan, kekayaan harta benda, kesehatan atau keelokan rupa (Bacaan pertama, Keb.7:7-11). Sebab manusia harus memberi pertanggung-jawaban kepada Sabda Allah, yang mengenal hati manusia sedalam-dalamnya, karena segalanya telanjang di hadapan-Nya (Bacaan kedua, Ibr.4:12-13). Maka kepada pemuda kaya, yang hidupnya telah menuruti perintah Allah, Kristus menyatakan bahwa ia masih mempunyai kekurangan satu, yaitu kelekatannya pada kekayaan duniawi (Bacaan Injil, Mrk.10:17-30).

 

Alam semesta ini, dimana manusia hidup dan berada di dalamnya, adalah ciptaan Allah. Sebagai pribadi manusia dilimpahi wewenang mengelola alam ini sesuai kehendak Allah, sebagai sarana bagi manusia dalam pengembangan diri. Sebab, pertama, selama di dunia ini manusia dalam perkembangan membentuk diri, yang nantinya harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah di akhir zaman; kedua, tujuan hidup manusia bukan di dunia ini, melainkan Allah sendiri, hidup abadi.

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-28 ini mengingatkan kita, bahwa manusia dihadapkan pada pilihan: hanya mau hidup   di dunia ini saja atau mau hidup abadi dalam Allah. Pilihan manusia itu tersirat pada cara hidupnya di dunia ini, cara bagaimana mengelola dunia ini serta sikapnya terhadap dunia ini dan terhadap Allah yang menciptakannya.

 

 

 

 

Semua itu akan terbuka sebagaimana adanya di hadapan Sang Sabda dan menentukan nasibnya selanjutnya. Pilihan manusia itu pada hakekatnya tidak lain daripada hatinya lebih melekat pada Allah atau pada dunia yang dikelolanya. “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta        di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutilah Aku!”. Memang pilihan ini tidak mudah, karena kehidupan di dunia ini konkret, dapat ditangkap dengan pancaindera. Tetapi manusia, yang diciptakan sebagai pribadi, adalah roh yang merohanikan jasmaninya, merohanikan tubuhnya. Hal itu menunjukkan bahwa hidup di dunia ini belum merupakan hidup yang paripurna, masih merupakan perkembangan, pertumbuhan menuju hidup sejati. Maka cara hidup kita di dunia ini bukan melestarikan kejasmanian kita, melainkan menyempurnakannya. Artinya, kita menggunakannya dengan memaknainya secara rohani. Apapun yang kita perbuat dengan tubuh kita dan menggunakan barang duniawi ini, kita lakukan sebagai ungkapan cinta, baik terhadap sesama dan diri sendiri, maupun terutama terhadap Tuhan yang menciptakan kita. Itulah yang yang harus kita pertanggung-jawabkan kepada Tuhan, yang mengetahui dan mengenal kita sebagaimana kita melakukan segala sesuatu itu merohanikan kejasmanian atau tidak. “Sabda Allah hidup dan penuh daya,….. ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh…..ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita”.

Segala yang jasmani dan duniawi itu nisbi, pada waktunya akan rusak dan binasa, tetapi dapat berguna bila kita jadikan sebagai sarana atau selalu diperlakukan sebagai tanda rohani. Manusia adalah roh yang merohanikan tubuhnya, agar sebagai manusia utuh, roh dan tubuhnya, hidup abadi, seperti halnya Tubuh Kristus yang dimuliakan dalam kebangkitan-Nya. Itulah kekayaan sejati, yaitu roh pengertian dan kebijakan, sehingga manusia pantas diangkat martabatnya sebagai anak Allah. “Ia kukasihi lebih dari kesehatan dan keelokan rupa, dan aku lebih suka memilhi dia daripada cahaya, sebab kilau daripadanya tidak kunjung hentinya. Namun demikian besertanya datang pula kepadaku harta milik dan kekayaan tak terhingga ada di tangannya”.

Kelekatan pada keduniawian itu berjalan membalik, yaitu berarti menjasmanikan rohnya, bukan roh merohanikan jasmaninya.

 

Dapatkah kita menghayati artinya apa yang dikatakan Bunda Maria:                    “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa?”.

 

 

 

St. Sutopanitro, Pr

 

 

Advertisements
%d bloggers like this: