Renungan harian 13 Oktober 2012-Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

Sabtu, 13 Oktober 2012
Pekan Biasa XXVII (H)
St. Eduardus; Sta. Eustokia; B. Honoratus Kosminski;
B. Aleksandrina Maria da Costa

 

 

Gal 3:22-29,
Mzm 105:2-3,4-5,6-7,
Luk 11:27-28

 

Bacaan Injil    : Luk. 11:27–28

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: ”Ber­bahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata: ”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

 

Gal 3:22-29

Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.
Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

 

Renungan
Menjelang akhir tahun sembilan puluhan di sebuah kota kecil, ada beberapa tokoh lintas agama menggagas sebuah paguyuban umat beragama. Gagasan ini dipicu dari kesadaran akan pentingnya menghargai keberagaman agama di daerah itu. Sebagian besar warga kota itu memang pemeluk Muslim, tetapi tidak sedikit yang beragama Katolik, Protestan, Konghuchu, Hindu dan Buddha. Setelah melewati pengenalan yang lebih dalam lewat kunjungan antar tokoh agama dan sosialisasi kepada komunitas masing-masing, setahun kemudian paguyuban benar-benar dideklarasikan. Semenjak itu, paguyuban selalu terlibat dalam menangani aneka permasalahan keagamaan di wilayah itu. Banyak masalah dapat ditangani karena kerja sama yang baik. Para tokoh itu memang berangkat dari latar belakang dan agama yang berbeda, tetapi satu hal yang menyatukan mereka adalah satu Indonesia. Keindonesiaan itulah yang membuat mereka bisa melihat bahwa perbedaan itu indah, bahwa perbedaan itu suatu berkat.

Bila semangat keindonesiaan menjadi kata kunci bagi lahirnya penghargaan terhadap segala perbedaan di negeri tercinta ini, jauh sebelum itu Rasul Paulus sudah mempunyai gagasan bagaimana perbedaan di dalam Gereja mesti disikapi. Menurut Paulus, iman akan Kristuslah yang dapat menyingkirkan segala perbedaan. Ketika orang dibaptis dalam Kristus, orang akan mengenakan Kristus. Dan ketika orang mengenakan Kristus, ia disatukan dengan Kristus. Persatuan dengan Kristus itu membuat tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani. Tidak ada lagi hamba atau orang merdeka. Tidak ada lagi laki-laki atau perempuan. Yang ada adalah saudara di dalam Kristus. Dengan demikian, di dalam Gereja Kristus tidak ada lagi sekat-sekat perbedaan warna kulit, suku, ras, agama, jenis kelamin, kaya-miskin, dst. Semua orang menjadi saudara yang saling mengasihi dan berbagi satu sama lain, tidak hanya menjadi slogan Kristiani yang indah, namun dihayati dalam hidup nyata setiap hari.

Doa: Tuhan, sadarkanlah aku bahwa aku hidup di tengah masyarakat dengan aneka perbedaan. Bantu aku agar aku selalu menghargai perbedaan dan membuatnya menjadi berkat bagi banyak orang. Amin.
Sumber : Ziarah batin 2012

Advertisements
%d bloggers like this: