Renungan Minggu 7 Oktober 2012-Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Atas dasar manusia sebagai gambar Allah ialah Kristus, Sang Allah-Manusia.

Allah menciptakan alam semesta ini dan manusia merupakan bagiannya, tetapi di antara makhluk ciptaan-Nya itu tidak ada yang sepadan dengan manusia; maka pria dan wanita bersatu menjadi satu daging (Bacaan pertama, Kej.2:18-24). Hal itu melambangkan Allah membawa manusia kepada kemuliaan dan menyempurnakan Yesus yang memimpin manusia kepada keselamatan dengan penderitaan-Nya, sehingga yang menguduskan dan yang dikuduskan menjadi saudara (Bacaan kedua,Ibr.2:9-11). Oleh karena itu suami/isteri yang menceraikan isteri/suami dan kawin dengan wanita/pria lain, ia berzinah, yaitu seperti manusia yang menyembah allah lain atau berhala (Bacaan Injil,              Mrk. 10:2-12).

Kesempurnaan manusia, yang merupakan tujuan akhir manusia, ialah bersatunya manusia dengan Allah, bersatunya hidup insani dengan hidup ilahi secara paripurna. Karena itu Kristus mengangkat perkawinan sebagai tanda akan Diri-Nya, yaitu kesatuan Allah dan Manusia (Immanuel). Bersatunya hidup insani dan hidup ilahi adalah azas dasar kesempurnaan manusia sebagai gambar Allah, yaitu azas dasar kesucian manusia, azas dasar keselamatan manusia, azas dasar hidup manusia yang sejati, azas dasar kesosialan manusia. Maka di luar Kristus tidak ada kesucian, tidak ada keselamatan, tidak ada hidup                  (bdk. Yoh. 11:25 atau 6:51).

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-27 ini mengingatkan kita, bahwa pria dan wanita itu sepadan, sama-sama manusia, sama-sama pribadi.

Memang, pria sebagai suami dan wanita sebagai isteri dalam kehidupan perkawinan masing-masing mempunyai fungsi dan tugas yang khusus, sehingga berbeda, tetapi perbedaan itu tidak berarti yang satu lebih tinggi. Kesatuan hidup seorang pria dan seorang wanita dalam perkawinan merupakan pelaksanaan kesosialan manusia yang paling intim, sehingga merupakan yang utama. Namun tidak boleh dilupakan pula, bahwa kesosialan manusia itu merupakan perwujudan pribadi manusia sebagai gambar Pribadi Allah Tritunggal (bdk.Mt.22:30). “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia………. Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah”. Kata ‘zinah’ pada mulanya digunakan untuk mengatakan orang yang menyembah berhala, menyembah allah lain yang bukan Allah Abraham, Ishak dan Yakub (bdk. Yer.3:9).  Maka bahwa kata ‘zinah’ digunakan untuk suami atau isteri yang bercerai dan kawin lagi menunjukkan kesatuan hidup manusia dengan hidup Allah itu yang hakiki, yaitu keselamatan manusia, manusia memiliki hidup sejati. Hal        ini secara tersirat ditegaskan oleh Kristus, ketika melarang para rasul           mencegah anak-anak datang kepada-Nya, dengan mengatakan: “Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya”.

Sikap anak kecil terhadap orang yang lebih tua, terutama terhadap orangtuanya sendiri, penuh kepercayaan, ia akan diberi segala kebutuhannya, perlindungan, pendidikan dsb. demi kebaikan dan kehidupannya. Demikianlah kesatuan manusia dengan Kristus itu keselamatan, itulah hidup sejati. Hal ini sungguh merupakan keyakinan iman rasul Paulus (bdk.Flp.1”23-24). Maka ia menyatakan: “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu. Itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara”. (bdk.Ef. 5:32). Manusia yang diciptakan Allah sebagai pribadi ternyata untuk mengenal dirinya ia harus keluar dari dirinya dan mengharapkan dikembalikan oleh orang lain (manusia beraksi dan mengharapkan reaksi). Sebab ciri utama pribadi adalah mengenal dirinya yang berbeda dengan yang lain. Menghadapi makhluk-makhluk lain Adam memberi nama, yang bagi orang Timur nama itu menunjuk jati diri yang diberi nama. Tetapi waktu Hawa dibawa Tuhan                    ke hadapannya, tanggapan Adam berbeda dengan waktu menghadapi makhluk-makhluk lain. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki”.

Memberi nama, disamping menunjuk harapan akan yang diberi nama itu hakekatnya demi kepentingan kehidupan manusia di dunia ini. Ada berbagai macam kepentingan kehidupan manusia dan segala yang diserahkan Allah kepada manusia harus digunakan untuk kehidupan bersama. Segala yang diberikan Allah mempunyai fungsi sosial dan tidak ada yang najis. Yang najis itu penggunaan yang tidak sesai kehendak Allah. (Najis dapat dikatakan anak dari zinah).

Apakah kita dapat menghayati iman rasul Paulus yang mengatakan: aku ingin pergi dan diam bersama-sama Kristus –- itu memang jauh lebih baik – tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu? (Flp.1:23-24).

 

 

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: