Renungan Minggu 23 September 2012-Sikap sosial manusia sebagai gambar Pribadi Allah Tritunggal adalah azas dasar mendahulukan dan peduli terhadap orang lain

Menerima panggilan Gereja haruslah bagaikan mencintai anak dalam nama Kristus.

 

Dalam Kitab Kebijaksanaan digambarkan, bahwa Mesias bukanlah orang yang berambisi untuk memperoleh nama baik atau kemenangan atau kedudukan duniawi, tetapi ia melayani semua orang sesuai dengan kehendak dan perkenanan Allah (Bacaan pertama, Keb.2:12, 17-20). Maka panggilan dari Kristus adalah hikmat dari Allah; orang yang menerimanya harus tidak dengan motivasi memperoleh sesuatu yang memberi kepuasan nafsu, melainkan untuk memperoleh kedamaian (Bacaan kedua, Yak.3:16 –4:3). Sebagaimana diajarkan oleh Kristus, bahwa barangsiapa ingin menjadi yang pertama hendaklah menjadi pelayan bagi semua orang lain (Bacaan Injil, Mrk.9:30-37).

 

Ambisi untuk memperoleh sesuatu yang memuaskan dorongan nafsu akan menciptakan persaingan dan akhirnya pertikaian. Maka orang yang menerima panggilan Gereja (Kristus) haruslah membuang ambisi seperti itu dan sebaliknya menerimanya sebagai panggilan melayani dalam kasih yang tanpa pamrih.

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-25 ini mengingatkan kita, bahwa sikap sosial manusia sebagai gambar Pribadi Allah Tritunggal adalah azas dasar mendahulukan dan peduli terhadap orang lain. Maka panggilan umat katolik oleh Gereja (Kristus) dalam hal apapun adalah panggilan sosial untuk melayani sesama demi keselamatan mereka.

Sebab melayani seperti itu akan diterima oleh Kristus sebagai pelayanan kepada-Nya, dan pelayanan kepada Kristus itu juga berarti pelayanan kepada Allah Bapa.

Dengan demikian melayani sesama demi keselamatan mereka itu akan berarti menyelamatkan diri sendiri (bdk. Mt.25:33-40). “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”.

Dengan mengatakan itu, Kristus menunjukkan motivasi yang menentukan nilai perbuatan manusia mendahulukan dan peduli kepada sesama yang harus ada dalam hati manusia (bdk. Mt.15:18), yang tidak lain daripada cinta yang menginginkan orang lain selamat. Bila orang menerima panggilan Gereja (Kristus) dengan motivasi lain, seperti misalnya sebagai kedudukan terhormat, mendapatkan nama baik atau keuntungan duniawi yang lain, mendahulukan dan peduli kepada sesama itu mungkin menyelamatkan yang dilayani, tetapi tidak menyelamatkan dirinya sendiri dan akhirnya juga dapat merusak hubungan sosial dengan sesama. Sebab disitu manusia didorong oleh keinginan nafsu kejasmaniannya yang mencari kepuasan dan kesenangan, yang mudah menimbulkan persaingan, iri hati dan pertikaian. “Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”. Maka agar mendahulukan dan peduli kepada orang lain (sesama) itu merupakan tindakan yang bijak, haruslah seperti Kristus, yang dinubuatkan dalam Kitab Suci sebagai orang yang menyandarkan diri hanya kepada Allah. Sebab mendahulukan dan peduli kepada sesama itu dilakukan demi kemuliaan Allah (bdk. Mt.5:13-16).

 

Sadarkah kita, bahwa sebagai pribadi gambar Pribadi Allah Tritunggal itu berarti melakukan apapun tujuannya ialah memuliakan Allah?

 

 

St. Sutopanitro, Pr

 

 

Advertisements
%d bloggers like this: