Renungan 22 September 2012-”Adalah seorang penabur keluar untuk menabur­kan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan meng­himpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.”

Sabtu, 22 September 2012
Pekan Biasa XXIV (H)
St. Thomas dr Vilkanova; St. Mauritius, dkk;
St. Ignatius dr Santhi; Yusuf Calasanz Marques; Henrikus Saiz, dkk.

1Kor 15:35-37,42-49,
Mzm 56:10,11-12,13-14,
Luk 8:4-15

Bacaan Injil    : Luk. 8:4–15

Ketika orang banyak berbondong-bon­dong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perum­pamaan: ”Adalah seorang penabur keluar untuk menabur­kan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan meng­himpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: ”Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia men­dengar!” Murid-murid-Nya bertanya kepa­da-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: ”Kepadamu diberi karu­nia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun me­man­dang, mereka tidak melihat dan seka­lipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak meng­hasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

Renungan
Benih dalam perumpamaan Yesus ini adalah sabda Allah, dan penabur adalah mereka yang menyebarkan, mewartakan sabda Allah. Keberhasilan pewartaan bukanlah tergantung dari kualitas benih yang ditaburkan. Juga tidak hanya tergantung pada antusiasme, keyakinan, maupun metodologi pendekatan serta strategi pastoral dari pewarta sabda, walaupun itu sangatlah memengaruhi proses keberhasilan itu. Namun, keberhasilan itu juga tergantung pada kualitas tanah dimana benih itu ditaburkan. Kualitas yang dimaksudkan di sini adalah sikap hati dan kesediaan untuk menerima sabda ini dan mengintegrasikan dalam hidupnya (bdk. Luk. 6:46–49; Why. 3:20). Seperti sang penabur yang tidak kecil hati dan putus asa, tetapi tetap setia dan penuh ketekunan menaburkan benih, demikianpun para pengikut Kristus dan pewarta sabda, hendaknya tidak putus asa dan kehilangan semangat di kala tugas pewartaannya tidak membuahkan hasil yang memuaskan.

Tuhan Yesus, berilah aku semangat dan ketekunan serta kesetiaan dalam mewartakan sabda-Mu kapan pun dan di mana pun. Amin.

Sumber : Ziarah batin 2012

Advertisements
%d bloggers like this: