Renungan Minggu 9 September 2012-Allah berkarya terus menerus untuk menyelamatkan manusia

img 2461 romo suto

Imanlah kekayaan yang dibutuhkan  manusia untuk hidup abadi, bukan kekayaan duniawi.

Allah akan datang menyelamatkan manusia dengan menyembuhkan yang cacat dan sakit serta melimpahkan segala yang dibutuhkan untuk hidup (Bacaan pertama, Yes.35:4-7a). Sebab orang yang dianggap miskin oleh dunia justru yang dipilih Allah untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris perjanjian, karena ia mencintai Allah (Bacaan kedua, Yak.2:1-5). Sebagaimana orang yang terbuka hatinya menyaksikan kebaikan yang dilakukan Kristus – itulah yang dianggap miskin oleh dunia — menjadi percaya dan menceriterakan kekayaan imannya itu kepada semua orang (Bacaan Injil, Mrk.7:31-37).

Allah berkarya terus menerus untuk menyelamatkan manusia, karena Allah itu abadi. Bagi kita yang hidup dalam waktu memang tidak dapat membayangkan hal ini. Tetapi itulah iman kita. Agar iman ini dapat kita pegang teguh, kita perlu melatih diri agar peka terhadap tanda-tanda karya Allah yang kita hadapi sehari-hari, juga yang tampaknya sederhana. Semakin kita peka terhadap tanda-tanda karya Allah, iman kita akan semakin diteguhkan.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-23 ini mengingatkan kita, bahwa selama di dunia ini kita hidup dalam waktu, sehingga kita tidak mampu mengerti, apalagi membayangkan keabadian. Yang ada dalam pemikiran kita mengenai hidup ialah seperti yang kita alami di dunia ini. Sebenarnya, karena kita ini roh, kita memiliki kemampuan mengatasi keterkurungan kita oleh waktu.

Namun akibat dosa, kita harus melatih diri agar kemampuan itu menjadi peka untuk dapat menangkap karya penyelamatan Allah yang abadi itu. Setidaknya latihan itu sendiri menyadarkan kita akan kehidupan kita yang berada dalam waktu ini, sehingga apa yang kita alami, yang dapat menggoyahkan iman, dapat dihindarkan. Lebih dari itu kita mengharap dapat menangkap kehendak Allah dari apa yang terjadi di sekitar kita atau apa yang dilakukan Kristus. “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, dan yang bisu berbicara”.

Mengimani bahwa tujuan kita ialah hidup abadi dan agar iman itu semakin dalam dan kuat, kita berusaha peka terhadap karya penyelamatan Allah yang abadi itu, apapun wujudnya di dunia ini; jangan sampai kita buta atau tuli terhadap sabda Allah yang memanggil kita kepada keselamatan; jangan sampai kita bisu untuk menjawab panggilan Allah itu, bahkan mampu mewartakannya kepada sesama.  Bila kita melupakan bahwa kita hidup dalam waktu, keduniawian, terutama kekayaan duniawi yang kita miliki dapat membuat kita seperti orang buta atau tuli atau bisu. Inilah yang diingatkan oleh rasul Yakobus kepada kita. “Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?”.

Maka janganlah kita membanggakan kekayaan duniawi, yang seolah-olah mampu mengangkat martabat manusia. Sebab manusia dicintai oleh Allah dan dipanggil untuk mewarisi janji Allah, yaitu hidup abadi dalam hadirat-Nya, karena kita kaya dalam iman. Itu berarti bahwa martabat manusia jauh mengatasi keduniawian dan tidak dapat diukur dengan kekayaan duniawi. Mujizat yang dilakukan Kristus menyembuhkan berbagai cacat dan penyakit adalah lambang akan penyelamatan sejati, yaitu dibebaskannya manusia dari belenggu dosa dan diangkatnya martabat manusia yang begitu tinggi. “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”.

Sadarkah kita bahwa iman kita, yang tampaknya tidak masuk akal pikiran manusia dari dunia ini, justru yang mengangkat martabat kita di hadapan Allah?

 

 

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: