Renungan Minggu 2 September 2012-Melaksanakan sabda Allah yang tertanam dalam hati sejak penciptaan itu sama dengan memuliakan Allah

Melaksanakan sabda Allah yang tertanam dalam hati sejak penciptaan itu sama dengan memuliakan Allah.

 

Bangsa-bangsa lain akan memuji kebesaran Allah Israel, bila bangsa Israel melaksanakan perintah Allahnya dengan tekun, karena tidak ada peraturan dan ketetapan yang begitu adil yang menyamai perintah Allah itu (Bacaan pertama, Ul.4:1-2, 6-8).  Dan sejak semula manusia diciptakan tertanam dalam hatinya sabda kebenaran untuk dilaksanakan, agar jiwanya tidak dicemarkan oleh dunia, melainkan agar hidup dan selamat (Bacaan kedua, Yak.1:17-18, 21b-22, 27). Sebab apa yang dari luar masuk ke dalam manusia tidak akan menajiskan, bila manusia melakukan dengan tekun sabda kebenaran yang tertanam dalam hatinya sejak diciptakan (Bacaan Injil, Mrk.7:1-8a,14-15,21-23).

 

Manusia ialah roh yang merohanikan jasmani atau tubuhnya. Artinya, bahwa tubuh atau kejasmanian manusia tidak akan bermakna membangun kemanusiaan, bila tidak memiliki nilai rohani, yaitu sabda kebenaran, yang tertanam dalam hati manusia sejak diciptakan.

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-22 ini mengingatkan kita, bahwa seluruh kekayaan manusia yang hakiki itu tersimpan di kedalaman hatinya. Karena hidup manusia di dunia ini adalah proses mengembangkan diri sebagai manusia sebagaimana dikehendaki Allah yang menciptakannya, kekayaan itu harus kita gali, kita keluarkan untuk                 dilaksanakan dalam rangka membangun kemanusiaan kita. Tetapi bila    manusia tidak melakukan hal itu sesuai kehendak Allah yang menciptakan,

tetapi melakukan menurut pikirannya sendiri yang mengikuti keinginan daging, justru akan melahirkan segala yang jahat. “Kamu semua, dengarkanlah dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat…….. Semua yang jahat itu timbul dari dalam dan menajiskan orang”.

Karena dosa apapun yang dilakukan manusia dapat didorong dari dua sumber yang berbeda, yaitu daging (nafsu) dan roh (cinta, sabda kebenaran yang tertanam dalam hati manusia). Perbuatan manusia, apapun itu, akan ditentukan oleh kedua dorongan itu; akan merusak, berarti perbuatan itu jahat, yaitu bila dorongan itu semata-mata dorongan nafsu, dan akan membangun, berarti perbuatan baik, bila dorongan itu, meskipun berasal dari nafsu diberi nilai atau dikendalikan dorongan roh, dijadikan sebagai tanda cinta. “Sebab itu terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”.

Setelah manusia berdosa dan kedua dorongan berjalan sendiri-sendiri, merohanikan jasmani atau menjadikan apa yang berasal dari dorongan nafsu itu sebagai tanda dorongan roh, tanda cinta, tanda dorongan sabda kebenaran, menjadi perjuangan yang dapat terasa menyakitkan, karena juga merupakan penyangkalan diri, namun hal itu akan berarti mewartakan kemuliaan Allah kepada sesama (bdk. Mt.5:14-16).

“Sekarang, hai Israel, dengarkanlah perintah dan hukum yang kusampaikan kepadamu. Lakukanlah itu supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu……lakukanlah dengan setia sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa….”.

 

Sadarkah kita bahwa kebaikan yang sejati itu yang keluar dari hati yang didorong oleh roh, oleh kekayaan yang ditanam oleh Allah sejak penciptaan?  

 

 

St. Sutopanitro, P

Advertisements
%d bloggers like this: