Renungan harian 2 September 2012-Bukan yang datang dari luar yang menajiskan orang, tetapi yang datang dari dalam, dari hati

Minggu, 2 September 2013
Pekan Biasa XXII (H)

B. Ludovikus Yosef Francois, Yohanes Gruyer,
dan Petrus Renatus Rogue; B. Yohanes Fransiskan Burte

 

Ul 4:1-2,6-8,
Mzm 15:2-3a,3cd-4ab,5,
Yak 1:17-18,21b-22,27,
Mrk 7:1-8,14-15, 21-23
Bacaan Injil : Mrk. 7:1–8.14–15.21–23

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: ”Mengapa murid-murid-Mu tidak hi­dup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Ja­wab-Nya kepada mereka: ”Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku de­ngan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pa­da-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ia­lah perintah manusia. Perintah Allah kamu abai­kan untuk berpegang pada adat istiadat ma­nusia.”

Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: ”Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul se­gala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pem­bunuhan, perzinaan, keserakahan, keja­hatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Renungan
Sungguh suatu yang ironis bahwasanya kita yang sangat tekun menjalankan aturan agama malah lupa akan hal-hal yang essensial dari ajaran agama kita. Kita terkadang sibuk dan peduli dengan memperhatikan sesuatu yang sangat mendetail, tetapi lupa melihat hal-hal yang sangat fundamental. Ketika Yesus dikomentari karena para murid-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan, sebagaimana digariskan dalam hukum orang Yahudi, Yesus membongkar kemunafikan orang farisi. ”Bangsa ini menyembah Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya jauh dari-Ku.”

Yesus tentu bukannya mengurangi nilai dan arti dari ritual pemebersihan atau purifikasi, tetapi Dia mau agar orang bisa melihat dan memilah mana aturan yang datangnya dari Tuhan dan mana yang datangnya dari manusia. Tidak semua peraturan itu mutlak kecuali yang datangnya dari Tuhan. Peraturan yang dibuat manusia selalu dibatasi oleh waktu maupun tempat atau budaya tertentu. Yesus langsung masuk kepada inti persoalan kemurnian, bahwasanya bukan yang datang dari luar yang menajiskan orang, tetapi yang datang dari dalam, dari hati.

Doa: Ya Tuhan, janganlah biarkan aku tenggelam dalam kepedulian akan hal-hal kecil yang ritualis dan lahiriah, tetapi murnikanlah hati dan semangatku akan ajaran-Mu yang agung. Amin.

Sumber : Ziarah batin 2012

Advertisements
%d bloggers like this: