Renungan Minggu 26 Agustus 2012- Sabda Allah yang berwujud Manusia itulah hidup dan sumber hidup bagi manusia. Dan Kristus datang untuk mempersembahkan hidup insani-Nya di kayu salib

Hanya dengan rendah hati, orang akan mampu memahami Kristus sebagai Sabda kehidupan.

Bangsa Yahudi beribadat kepada Allah, karena Allahlah yang membebaskan mereka dari penindasan di Mesir dengan tanda-tanda mukjijat besar dan melindungi mereka sepanjang perjalanan mereka ke tanah yang dijanjikan (Bacaan pertama, Yos.24:1-2a, 15-17, 18b). Sebagaimana kita, karena menghormati Kristus sebagai Kepala Gereja dan sumber hidup Gereja, sebagai sesama anggota Gereja-Nya saling menghargai dan menghormati dengan rendah hati (Bacaan kedua, Ef.5:21-32). Maka Kristus dengan tegas membiarkah (menantang) para murid-Nya, bila merasa apa yang dikatakan-Nya bahwa tubuh dan darah-Nya adalah benar-benar makanan dan minuman, menggoncangkan iman mereka, silahkan meninggalkan Dia (Bacaan Injil, Yoh.6:60-69).

Di dunia ini belum pernah ada orang yang melihat hidup. Yang kita lihat hanyalah tanda kehidupan. Demikian pula untuk mempertahankan hidup yang kita lihat hanyalah makanan. Tetapi sebagai ciptaan Allah Kristus menyatakan, bahwa untuk mempertahankan hidup yang utama ialah sabda Tuhan, yang juga tidak kita lihat. Dengan kata lain Kristus mau menyatakan, bahwa makanan itu tanda akan Sabda Allah yang diperlukan manusia untuk hidup

Kristus adalah sabda Allah yang menjadi manusia (lh. Yoh.1:1-13). Maka Sabda Allah yang berwujud Manusia itulah hidup dan sumber hidup bagi manusia. Dan Kristus datang untuk mempersembahkan hidup insani-Nya di kayu salib, maka Kristus menyatakan, bahwa ‘tubuh-Nya adalah benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman’.

Dengan kata lain Kristus mau menyatakan bahwa makanan untuk hidup sejati adalah diri-Nya, yang kemudian ditandakan-Nya dalam rupa roti dan anggur.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-21 ini mengingatkan kita, bahwa manusia, selama masih di dunia ini, tidak mungkin dapat memahami Allah secara utuh. Kebesaran dan keagungan Allah tidak terbatas, sedang selama di dunia ini manusia hanya mengenal Allah dari tanda-tanda yang sangat terbatas. Maka memahami Allah melalui tanda itu tidak mungkin utuh. Sedang Allah adalah sumber hidup manusia, sebagaimana dikatakan oleh Kristus sendiri, bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup. Tetapi hidup itu sendiri dikenal manusia juga melalui Manusia Yesus, jadi oleh manusia juga tidak dikenal secara utuh, sekalipun Kristus adalah Sang Wahyu, pernyataan Allah yang utuh. “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu : Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya”. (bdk. Mt.16:17). Kesadaran manusia akan ketergantungannya pada Penciptanya itu tertanam dalam hati sanubari manusia. Karena kelemahan manusia yang melihat Penciptanya hanya dalam tanda-tanda, manusia menggambarkan Allah tidak utuh. Itulah yang menyebabkan manusia menggambarkan Allah menurut manusia sendiri, bahkan menurut kemauan atau keinginan manusia sendiri. Disitulah manusia jatuh pada berhala atau politheisme atau pantheisme. Maka dalam sejarah keselamatan melalui para nabi-Nya Allah terus menerus menyatakan, bahwa tiada Allah lain kecuali Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Dialah satu satunya Allah, bukan hanya yang menciptakan manusia dan segala yang ada, tetapi juga yang menyelamatkan umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, sebagaimana dilambangkan dengan pembebasan bangsa Israel dari penindasan di Mesir.

“Jauhlah daripada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadat kepada allah lain! Sebab Tuhan, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri dan telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh….”. Namun ternyata manusia sudah menjadi sedemikian lemah, sehingga berkali-kali manusia meninggalkan Allah yang satu-satunya itu dan Allah sendiri terus menerus menuntun dan menolongnya kembali kepada-Nya, sampai pada pelaksanaan janji-Nya, yaitu kedatangan Yesus Kristus.

Sebab sekalipun manusia menyadari bahwa hidup itu adalah miliknya yang paling berharga, namun pengertian manusia tentang hidup juga tidak utuh. Hal ini diperparah lagi, karena pada kenyataannya, manusia akhirnya menghadapi kematian. Karena itu Kristus menegaskan : “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup”. Seperti halnya dosa itu meninggalkan Allah dan karena itu akibatnya manusia mati, demikian pula hidup abadi itu akan kita miliki, bila kita menyatu dengan Allah kembali. Dan Kristus adalah sungguh Allah, maka kita akan hidup kekal bila kita menyatu dengan Kristus. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci, persatuan Allah dengan manusia digambarkan dengan perkawinan, yaitu kesatuan hidup antara suami dan isteri, maka rasul Paulus juga mengambil contoh kesatuan hidup suami dan isteri dijadikan tanda kesatuan hidup Kristus dan Gereja-Nya. “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dengan Gereja-Nya”. (bdk. Yoh.15:4-6).

Sadarkah kita bahwa tanda kesatuan hidup antara manusia dan Allah tidak hanya dilambangkan dengan kesatuan hidup suami dan isteri, tetapi juga dengan makanan? Dan makanan untuk hidup abadi itu Sabda Allah, yaitu Kristus sendiri atau Tubuh dan Darah-Nya?

 

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: