Renungan harian 25 Agustus 2012-Seorang pemimpin dituntut mampu memberi contoh atau teladan kepada anak buahnya.

Sabtu, 25 Agustus 2012
Pekan Biasa XX (H)

St. Ludowikus; St. Yosef dr Calasanz;
B. Maria dr Yesus Tersalib

 

Yeh 43:1-7a,
Mzm 85:9ab-10,11-12,13-14,
Mat 23:1-12
Bacaan Injil : Mat. 23:1–12

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada mu­rid-murid-Nya, kata-Nya: ”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah men­du­duki kursi Musa. Sebab itu turuti­lah dan lakukanlah segala sesuatu yang me­reka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melaku­kannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Se­mua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimak­sud supaya dilihat orang; mereka me­makai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di Surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Renungan
Seorang pemimpin dituntut mampu memberi contoh atau teladan kepada anak buahnya. Ia bukan sekadar menetapkan atau menerapkan peraturan, melainkan juga harus menjalankan aturan yang sudah disepakati bersama dan mengupayakan kenyamanan bagi anak buahnya. Oleh karena itu, pemimpin tidak boleh menggunakan jabatan dan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi apalagi sampai tega merugikan atau menyengsarakan anak buahnya. Kritikan pedas Yesus disampaikan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, karena mereka mengajarkan sesuatu tetapi tidak menjalankannya atau melakukannya. Tampilan dan pengajarannya mengagumkan, tetapi tidak disertai dengan perbuatan sebagaimana yang ia ajarkan.

Walaupun tidak mudah, marilah kita berusaha untuk menjadi seseorang yang konsisten dan konsekwen antara kata-kata dan perbuatan, antara aturan dan ajaran yang kita ketahui dengan tindakan nyata yang harus kita wujudkan. Kita ingin semakin kaya akan pengetahuan dan ajaran Tuhan dalam Gereja, supaya semakin kaya juga perbuatan baik kita dalam kehidupan sehari. Kita tidak perlu menyembuyikan pengetahuan dan kemampuan baik yang kita miliki, sebaliknya dengan tulus dan dalam kerendahan hati membagikannya untuk sesama.

Doa: Ya Allah, aku selalu berharap untuk bisa berbuat baik bagi sesama. Semoga aku tidak hanya pandai mengagumi dan berkata-kata tentang kebaikan-Mu, melainkan juga bersemangat untuk berbuat baik. Berilah aku hati yang rela dan tulus berbagi demi sesama. Amin.

Sumber : Ziarah batin 2012

Advertisements
%d bloggers like this: