Renungan Minggu 19 Agustus2012- Sumber hidup abadi ialah Allah sendiri

Sumber hidup abadi ialah Allah sendiri.

 

 

 

Hidup yang bijak itu hidup yang dipersembahkan kepada Allah, sebab hidup itu bagaikan membangun rumah yang didasarkan pada kurban sembelihan dan darah persembahan serta dihidangkan untuk semua orang agar hidup (Bacaan pertama, Ams.9:1-6). Demikianlah hidup orang beriman itu melaksanakan kehendak Allah dan dengan mengikuti bimbingan Roh Kudus bersyukur, memuji dan memuliakan Allah Bapa dalam nama Tuhan Yesus Kristus (Bacaan kedua, Ef.5:15-20). Sebab hidup sejati yang abadi itu bersumber pada Allah, seperti Kristus hidup oleh Bapa yang mengutus Dia, demikian barangsiapa makan Tubuh Kristus dan minum Darah Kristus akan hidup oleh Kristus (Bacaan Injil, Yoh.6:51-58).

 

 

 

Azas dasar ada, hidup dan kesucian manusia ialah bila Allah menyatukan diri-Nya dengan manusia, sebab manusia adalah ciptaan Allah. Tidak ada sesuatu pun yang ada yang lepas dari Allah. Itulah sebabnya dosa, yang berarti mau melepaskan diri dari Allah, mengakibatkan kematian.

 

Maka bila manusia mau hidup abadi kembali sebagai manusia, harus mau menerima Allah kembali dalam dirinya dan mengembangkan kesatuannya dengan Allah itu dengan membersihkan pencemaran dosa yang terjadi dalam dirinya. Meskipun hal itu berarti menyangkal diri, karena pencemaran itu telah menyatu dengan dirinya, haruslah diterimanya dengan ikhlas sebagai          tanggung-jawab.

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-20 ini mengingatkan kita, bahwa kita harus selalu menyadari apa artinya diciptakan,            sebab kita diciptakan sebagai pribadi yang berdaulat dan memiliki akal budi, sehingga dalam diri kita tetap ada dorongan kemandirian.

 

Dalam sejarah keselamatan tampak hal itu menjadi titik lemah manusia, sehingga berulang kali manusia mau melepaskan diri dari Allah yang menciptakannya. Tetapi karena rasa ketergantungan itu pun ada, lalu orang membuat allah sendiri; mereka jatuh dalam berhala.

 

Untuk mengatasi kelemahan itu Allah berkenan menolong manusia, yaitu dengan mengutus Putera Tunggal-Nya menjadi Manusia. Penyatuan Allah dengan manusia inilah kekuatan manusia. Maka dengan tegas Kristus menyatakan : “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku”.

 

Sabda Kristus ini hanya dapat kita hayati, bila kita menyadari apa artinya diciptakan. Maka untuk menjadi ciptaan yang berdiri sebagai pribadi yang berdaulat, memiliki akal budi, harus selalu berusaha melaksanakan hidupnya      di dunia ini dengan bijak. Artinya manusia hanya akan semakin merdeka, bila manusia mau mengikuti kehendak Allah, semakin melekat dan menggantungkan diri pada Allah; manusia hanya semakin mampu memahami kebenaran, bila selalu mengikuti jalan pikiran Allah. “Saudara-saudara, perhatikanlah dengan seksama bagaimana seharusnya kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakan supaya kamu mengerti kehendak Allah”.

 

Mengimani sabda Kristus yang keras itu sulit sekali, karena menurut pikiran manusia tidak masuk akal. Namun bila kita selalu berusaha menangkap kehendak Allah dari segala sesuatu yang kita alami dan lihat, kita akan semakin peka terhadap kehendak baik Allah kepada kita, terutama bila yang kita alami itu sesuatu yang pahit. Itulah kerusakan akibat dosa, yang terasa pahit, tidak enak, bahkan dapat mungkin merupakan penderitaan, yang oleh Kristus digunakan sebagai jalan menuju hidup abadi. Maka dalam Kitab Suci, kebijakan hidup dikatakan harus terletak pada tiang penyangga yang kokoh, yaitu berani berkurban atau mengurbankan diri untuk melayani sesama dan memuliakan Allah. “Kebijaksanaan telah membangun rumah dan melengkapinya dengan tujuh tiang, memotong ternak sembelihannya, mencampur anggurnya dan menyediakan hidangannya”.

 

 

 

Sadarkah kita, betapa tinggi kebijakan Allah dalam menolong manusia yang telah jatuh ke dalam dosa itu dapat kembali menuju hidup abadi? Manusia yang telah tidak berdaya itu tetap diperlakukan sebagai pribadi yang berdaulat, dengan cara agar semakin menyadari ketergantungannya pada Allah.

 

 

 

St. Sutopanitro, Pr

 

 

 

Advertisements
%d bloggers like this: