Renungan Minggu 5 Agustus 2012 -Kebenaran, keadilan atau kesucian tidaklah diukur dari apa yang tampak, melainkan dari apa yang ada dalam hati. Untuk dapat menangkap apa yang ada dalam hati, orang harus membuka hatinya dengan tulus, bukan bersikukuh pada apa yang menjadi pemikiran atau wawasannya sendiri

Panggilan Allah ialah panggilan untuk percaya kepada Kristus sebagai sumber hidup abadi.

Bahwa Allah memberikan manna kepada orang-orang Israel karena mereka bersungut-sungut, bukan hanya agar mereka hidup dan meneruskan perjalanan, tetapi terutama agar mereka menangkap bahwa Allahlah yang memberi manna (Bacaan pertama, Kel.16:2-4, 12-15). Dan untuk dapat sampai kepada iman, manusia harus berpikir seperti yang diajarkan Kristus sebagai manusia baru, yaitu tidak menuruti hawa nafsunya yang akan membawanya ke kematian (Bacaan kedua, Ef.4:17, 20-24). Karena itu Kristus menegur orang banyak yang mencari Dia karena mereka dapat makan kenyang, tetapi agar mereka mengimani bahwa Kristus adalah roti hidup (Bacaan Injil, Yoh.6:24-35).

Kebenaran, keadilan atau kesucian tidaklah diukur dari apa yang tampak, melainkan dari apa yang ada dalam hati. Demikianlah untuk dapat menangkap apa yang ada dalam hati, orang itu juga harus membuka hatinya dengan tulus, bukan bersikukuh pada apa yang menjadi pemikiran atau wawasannya sendiri. Dalam dialog, orang harus berusaha memahami jalan pikiran lawan dialognya, kalau tidak komunikasi mereka tidak akan bertemu. Demikian pula untuk dapat menangkap kehendak Tuhan dari berbagai peristiwa dan kejadian, manusia harus membuka hatinya dengan tulus terhadap Tuhan. Kalau tidak demikian, orang tidak akan dapat menangkap kebenaran, keadilan atau kesucian itu.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-18 ini mengingatkan kita, bahwa karena dosalah hati manusia tertutup, sehingga pandangannya menjadi gelap.

Sedang hidup manusia di dunia ini hidup dalam dunia jasmani, jadi hidup dalam tanda atau lambang. Karena itu, segala sesuatu yang dihadapi dan dialami manusia selama di dunia ini merupakan tanda-tanda dari Allah yang menciptakannya. Itulah sebabnya tugas Kristus datang ke dunia ini ialah menunjukkan kebenaran sejati (bdk. Yoh.18:37). “Aku berkata kepadamu : sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Putera Manusia kepadamu, sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan materai-Nya”. Peristiwa roti lima potong dan ikan dua ekor, yang setelah diberkati Kristus, cukup untuk dimakan lebih dari lima ribu orang, adalah tanda, bahwa Kristus adalah sumber hidup sejati. Hidup sejati ialah mengimani Kristus.

“Akulah roti hidup, dan barangsiapa percaya kepada-Ku takkan haus lagi”. Mengimani Kristus sebagai sumber hidup, sebagai roti hidup yang turun dari surga, secara konkrit dikatakan oleh rasul Paulus dengan cara hidup yang sesuai dengan ajaran Kristus, yaitu yang tidak semata-mata menuruti dorongan hawa nafsu yang akan membawa kepada kebinasaan, melainkan hidup dalam roh.

“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia, menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, …….mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam keadilan dan kekudusan yang benar”. Perubahan cara hidup ini perubahan yang tidak kecil. Bahkan rasul Paulus mengatakan cara hidup baru itu tidak dikenal dunia, sebab bila dunia mengenalnya, dunia tidak akan membunuh Kristus. Cara hidup ini disampaikan oleh Kristus secara rinci dalam khotbah-Nya di bukit, yang dikutip oleh penginjil Matius pada bab 5, yang pada intinya ialah mencintai Allah dengan sepenuh jiwa raga dan tenaganya serta mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Cara hidup yang menggunakan orientasi Kristus itu akan menuntun kita kepada kebenaran, yaitu bahwa Kristus adalah hidup sejati bagi manusia.

Hal ini telah di pralambangkan dalam Kitab Suci, bahwa kebutuhan hidup manusia di dunia ini disediakan oleh Tuhan, Allah Pencipta manusia. “ Sesungguhnya Aku telah menurunkan dari langit , hujan roti bagimu, maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak…..”.

Sadarkah kita bahwa Kristus, bagi kita yang mengimani Dia, adalah segala-galanya?   

 

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: