Renungan harian 27 Juli 2012-Sabda Yesus apabila diresapkan dalam hati dan dilaksanakan dengan sepenuh hati seolah benih iman yang ditaburkan berurat akar dalam diri kita, mewarnai sikap , tindakan kita dan akan berbuah berlimpah serta menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar.

Jumat, 27 Juli 2012
Pekan Biasa XVI (H)
B. Maria Magdalena Martinengo; B. Titus Brandsma
St. Pantaleon; St. Aurelius dan Sta. Natalia

 

Yer 3:14-17,
MT Yer 31:10,11-12ab,13,
Mat 13:18-23
Bacaan Injil : Mat. 13:18–23

”Karena itu, dengarlah arti per­um­pa­maan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak menger­tinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila da­tang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditabur­kan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang dita­bur­kan di tanah yang baik ialah orang yang men­dengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”

Renungan
Pasar tradisional di Indonesia sering kali menjadi tempat perjumpaan yang menyenangkan. Di sana orang saling menyapa dan mengenal satu sama lain sambil berbelanja. Ada kehangatan di sana karena perjumpaan yang terjalin melibatkan seluruh diri mereka, tanpa embel-embel lain. Dengan demikian, relasi yang dibangun pun menjadi berkesan dan bertahan lama. Berbeda dengan pasar modern atau pasar tradisional yang dimodernkan saat ini, orang datang ke sana hanya untuk membeli. Keramahan di pasar modern menjadi abu-abu. Si pelayan memberikan sapaan manis hanya karena tuntutan pekerjaan dan uang.
Sabda Yesus menjadi menarik ketika diwartakan dengan cara sederhana. Sabda Yesus menjadi berkualitas apabila masing-masing orang meresapkannya dalam hati dan melaksanakannya dengan sepenuh hati. Dengan demikian, benih iman yang telah ditaburkan itu akan berurat akar dalam diri kita, menjadi dasar keberadaan kita, sekaligus mewarnai sikap dan tindakan kita. Maka, apa saja yang kita lakukan, menjadi kesaksian nyata akan iman kita. Hidup kita pun menjadi kokoh dan bermakna.
Iman yang sudah mengakar dalam diri kita pasti akan berbuah berlimpah, dan akan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar. Jika tidak, kita hanya menjadi diri kita sendiri yang kerdil dan tak berkembang. Mati dalam himpitan ketakberdayaannya sendiri. Tentu kita sendiri tidak mau menjadi orang beriman yang sia-sia.
Ya Allah, semoga semakin hari imanku semakin menguat dan berurat akar dalam diriku. Amin.

Sumber : Ziarah Batin 2012

Advertisements
%d bloggers like this: