Renungan Minggu 22 Juli 2012-sebagai orang beriman di mana menghadapi adanya perpecahan atau percecokan, ia harus menjadi pemersatu dan pendamai.

 

Panggilan Allah ialah panggilan melaksanakan tugas penggembalaan.

 

Melalui nabi Yeremia, Allah berfirman akan menuntut tanggung-jawab karena bangsa Israel terpecah belah dan tercerai berai, dan Allah akan menumbuhkan keturunan Daud yang akan mempersatukan dan mensejahterakan umat Israel (Bacaan pertama, Yer.23:1-6). Bahkan melalui rasul Paulus, Allah akan mempersatukan seluruh umat manusia dalam Kristus menjadi satu kawanan, dijiwai satu Roh dan di bawah satu Gembala menghadap Bapa (Bacaan kedua, Ef.2:13-18). Maka, meskipun Kristus bersama para rasul sesudah bekerja berat mau menyepi dan beristirahat, namun melihat banyaknya orang yang mencari Dia, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba tanpa gembala (Bacaan Injil, Mrk.6:30-34).

 

Dalam suatu pertemuan Bapa Uskup Suharyo pernah menyatakan, bahwa umat jangan menganggap diri dan diperlakukan terus sebagai domba saja, mereka pun terpanggil saling menjadi gembala satu sama lain diantara sesamanya. Memang orang harus juga tahu diri dan dapat menempatkan diri    dimana ia berada (dalam istilah Jawa ‘empan papan’). Sebagai contoh, salah satu sisi tugas penggembalaan yang cukup penting ialah mempersatukan semua umat, dan caranya itu dapat bermacam-macam, sehingga masing-masing dapat menggunakan mana yang sesuai dengan bakat dan kedudukan dirinya diantara siapa atau kelompok apa.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-16 ini mengingatkan kita, bahwa sebagai orang beriman di mana menghadapi adanya perpecahan atau percecokan, ia harus menjadi pemersatu dan pendamai. Memang tidak semua orang memiliki jiwa pemimpin, bahkan kebanyakan orang justru yang membutuhkan pemimpin, agar jalan hidupnya tidak menyimpang dan dapat lurus. Tetapi bagaimanapun, kita haruslah berusaha memimpin diri sendiri dan sesuai kemampuan kita masing-masing, membawa persatuan dan damai       diantara umat, sekurang-kurangnya tidak ikut membakar, bila ada gejala perpecahan.

Memang kita masing-masing sebagai pribadi memliki keperluan dan kepentingan yang berbeda-beda. Kita pun perlu memperhatikan kepentingan pribadi kita. Namun sesuai keadaan konkrit kepentingan masing-masing, kita harus dapat mempertimbangkan, mana yang harus didahulukan, bila tidak dapat dikombinasikan. Tetapi semangat kesatuan Gereja, yang harus menjadi garam masyarakat, kiranya perlu mendapatkan perhatian khusus. “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mngajarkan banyak hal kepada mereka”.

Mengimani Kristus berarti menjadi pengikut Kristus, juga menjadi pengikut Kristus sebagai pemersatu dan pembawa damai. Sebab Kristus diutus oleh Allah Bapa untuk mempersatukan seluruh umat manusia dalam diri-Nya. Keselamatan manusia ialah menyatunya manusia dengan Allah, dan Kristus datang untuk menyelamatkan manusia tanpa kecuali. Tidak semua kita perlu menjadi gembala secara profesional, apalagi purna waktu, melainkan bila kita ikut berperan membangun persatuan diantara umat, sehingga bagi orang lain keakraban persatuan di antara kita itu menarik perhatian mereka, atau kita berusaha bersikap ramah dan terbuka (tidak bersikap eksklusif), dengan cara itu pun kita telah melangkah menjadi pemersatu dan pembawa damai bagi sesama. “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh boleh menghadap Bapa dalam satu Roh”.

Oleh karena itu ketika terjadi perpecahan di antara bangsa Israel, sehingga suku-sukunya mempunyai rajanya sendiri-sendiri, bahkan di antara mereka pun terjadi perang, melalui nabi Yeremia Allah berfirman akan menuntut para pemimpin bangsa itu yang tidak menggembalakan umat Allah dengan semestinya. Pada waktunya Allah akan mempersatukan mereka kembali, yang akan dilaksanaka oleh Kristus. “Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya : ‘Tuhan kita adil’ “.

Raja Daud adalah pralambang Kristus sendiri, yang mau mempersatukan seluruh umat manusia.

 

Sadarkah kita, bahwa kita sebagai anggota Gereja-Nya bertugas meneruskan karya Kristus mempesatukan seluruh umat manusia?

 

St. Sutopanitro, Pr

 

Advertisements
%d bloggers like this: