MEDITASI DAN TRADISI KRISTIANI

MEDITASI DAN TRADISI KRISTIANI

Oleh : Edhi Siswoyo , Ursula 3

Steve Jobs, pendiri Apple Computer yang monumental , ketika masih muda di tahun 1974 pergi ke India , berkeliling dari desa kedesa selama 7 bulan melakukan perjalanan spiritual ,dengan tujuan mencari pencerahan . Steve penganut Buddha- Zen, tetapi dilain pihak ,mulai sekitar tahun enam puluhan , ribuan orang2 muda dari segala penjuru dunia ,diantaranya dengan latar belakang kekristenan ,pergi ke Timur (i.e. India) juga untuk mencari pengalaman spiritual.

Sampai saat ini pun, banyak orang2 Kristen yang belajar meditasi mengikuti tradisi agama2 Timur ( Budha/Hindu). Dalam pertemuan2 di acara acara lingkungan sering terdengar, adanya teman2 kita seiman yang mengikuti meditasi maupun retret2 seperti itu ,untuk mencari ketenangan jiwa maupun mengobati luka luka batinnya. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang buruk, karena banyak teman2 yang memperoleh manfaat dengan aktifitas2 seperti itu. Tetapi yang mengherankan adalah ,pencerahan yang dicari jauh jauh itu sebetulnya sudah ada di tradisi kekristenan sendiri. Tidak kurang dari seorang Thomas Keating, seorang imam Cistersiensis, terusik hati kecilnya dan bertanya tanya :” mengapa ribuan orang muda selalu pergi ke India setiap musim panas untuk mencari bentuk2 spiritualitas, padahal ada banyak biara kontemplatif di negerinya sendiri ?” . Referensi mengenai meditasi atau kontemplasi (agama Timur lebih suka memakai istilah meditasi) yang paling awal dapat diketemukan pada Injil Perjanjian Lama, Yosua 1:8, “ Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini,TETAPI RENUNGKANLAH ITU SIANG DAN MALAM, supaya engkau bertindak hati hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”. Yosua hidup disekitar tahun 1500 -1390 Sebelum Masehi, dengan demikian referensi kontemplasi tersebut sudah ada di tradisi Kristen sekitar abad 14 sebelum Masehi. Pada sekitar abad 15 sebelum masehi, referensi meditasi dapat dijumpai pada kitab Hindu Veda. Kemudian sekitar abad 6 sampai 5 sebelum masehi, meditasi juga ditemukan dalam tradisi Taoist China dan Buddha di India.

Pada awal awal abad , sekitar abad ke tiga Masehi, banyak pengikut pengikut Yesus yang pergi ke padang gurun dan kemudian tinggal disana untuk mencari inspirasi, petunjuk dan pencerahan . Salah satu Rahib atau Bapa padang gurun yang termashur adalah Anthony the Great atau Anthony yang agung, yang pindah ke gurun pasir pada sekitar tahun 270-271 dan kemudian terkenal sebagai Bapa dan pendiri Biara padang gurun. Setelah Anthony meninggal dunia pada tahun 356, ribuan Rahib mengikuti jejak Anthony dan tinggal di padang gurun.

Menurut ceritera, Anthony tergerak untuk hidup menyepi di padang gurun setelah dia mendengar kotbah yang membahas Matius 19:21 ,” Kata Yesus kepadanya:” Jikalau engkau hendak sempurna , pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang orang miskin, maka engkau akan beroleh harta disorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku”. Anthony yang agung melepaskan semuanya , dan baginya “Allah saja cukup”, lalu pergi untuk hidup dan menyepi di padang gurun. Pengikut2 setia Yesus ini memilih keheningan, berpuasa dan berkontemplasi disamping menjadi pembimbing rohani yang canggih. Sepuluh tahun kemudian setelah Anthony pergi kepadang gurun, Konstantine I mengumumkan bahwa kristianiti adalah legal di Mesir, sehingga umat Kristen dapat merasa aman hidup di kota lagi. Tetapi kehidupan padang gurun yang keras, sunyi dan penuh pengorbanan telah menjadi salah satu pilihan bagi Anthony dan lain lainnya untuk menghayati kebersamaan dengan Tuhan.

Sedangkan dalam Perjanjian Baru, perihal kontemplasi banyak disinggung, misalnya pada : Lukas 5:16, “ Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat tempat yang sunyi dan berdoa”, Lukas 6:12, “ Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam malaman Ia berdoa kepada Allah”, Matius 14:23, “Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik keatas bukit untuk berdoa seorang diri, ketika hari sudah malam, Ia sendirian disitu “, dan Markus 1:35,” Pagi pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar. Ia pergi ketempat sunyi dan berdoa disana” dan satu lagi yang juga menyebutkan cara kontemplasi adalah Matius 6:6, “ Tetapi jika engkau berdoa, masuklah kedalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”.

Lalu mengapa ?. Kalau dalam tradisi Kristen , meditasi sudah dikenal ber abad abad yang lalu, tetapi justru meditasi lebih dikenal berasal dari Timur ( India , Cina, Jepang ) ? . Hal ini mungkin dikarenakan, meditasi dalam tradisi Kristen lebih banyak dilakukan dalam lingkungan biara biara saja, tertutup hanya untuk rahib rahib. Tradisi kontemplasi atau meditasi ini tidak terbuka untuk lingkungan diluar biara. Dengan demikian umat Kristen mempunyai persepsi bahwa meditasi hanyalah untuk para Rahib Rahib di biara saja.

Sedangkan ditahun tahun enam puluhan banyak pemuka pemuka agama Hindu dan Buddha yang datang ke barat untuk mengajar meditasi kepada masyarakat umum, dimana mereka dapat datang untuk memperoleh ketenangan batin dan kedamaian atau pengalaman spiritual yang selama ini tidak diperolehnya dari agama yang dianutnya. Seperti kita ketahui ,sekarangpun sering diadakan retret2 dan pelajaran meditasi untuk umum ,yang berasal dari tradisi Timur .

Adalah Pater John Main OSB ( 1926-1982 ), salah satu Rahib yang menemukan kembali meditasi menurut tradisi Kristen dan membawanya ke luar tembok tembok biara ( monastery beyond the walls). John Main lahir di London pada tahun 1926 dari suatu keluarga Katolik. Ketika bekerja di Departemen Luar negeri , dia ditugaskan di Malaysia. Suatu waktu dia ditugaskan untuk mengunjungi sebuah panti asuhan di Kualalumpur, yang dikelola oleh seorang Pandita Hindu keturunan India. Dari pandita ini, John Main belajar bermeditasi dengan cara mengulang ngulang sebuah mantra. Hal ini dikemudian hari menimbulkan salah persepsi kepada sebagian orang yang menganggap bahwa cara meditasi yang diajarkan oleh John Main tidak kristiani. Setelah John Main kembali ke Eropa, dia kemudian menjadi Rahib Benediktin di London. Di biaranya , John Main dilarang bermeditasi oleh Direktur Rohani Novis nya, karena dianggap bukan suatu cara berdoa kristiani. Dengan berat hati, John Main taat melepaskan metode meditasi yang dianutnya selama ini. Dikemudian hari, John Main menganggap bahwa larangan Direkturnya tersebut merupakan berkat baginya, karena dengan demikian dia dia diajarkan untuk dapat melepaskan ego-nya, melepaskan sesuatu yang sangat berharga baginya . Bertahun tahun kemudian, John Main ditugaskan untuk menjadi kepala sekolah di Washington DC. Ketika suatu waktu, seorang anak muda datang kepadanya minta nasehat untuk mengatasi kesukaran hidupnya, John Main menganjurkan anak muda tersebut untuk membaca buku berjudul Holy Wisdom, karangan Agustinus Baker, seorang Benediktin kontemplatif abad ke 17. Melihat antusias anak muda itu dalam membaca buku tersebut, John Main tergerak untuk membaca kembali buku klasik itu. Setelah itu John Main kembali bermeditasi lagi.

Sekembalinya John Main ke London, dia terus mencari dan menggali apakah bentuk doa berupa meditasi ini mempunyai akarnya dalam tradisi Kristiani. Akhirnya dari tulisan Rahib Yohanes Kasianus pada abad ke 4, berjudul “Konferensi-konferensi “ , John Main menemukan doa hening satu kata ,yang mirip dengan apa yang pernah dipelajarinya dari pandita Hindu sebelum dia menjadi Rahib Benediktin. Kasianus menyebut doa hening satu katanya sebagai formula, bukan mantra. Formula atau doa satu kata yang favorit adalah “ doa Yesus” disamping kalimat “ Tuhan tolonglah saya “. Pada awal awal abad , doa kontemplatif tersebut pertama kali dipraktekkan dan diajarkan oleh Bapa Bapa padang gurun di Mesir, Palestina dan Siria. Doa kontemplatif makin berkembang dengan terbitnya tulisan berjudul “ The cloud of Unknowing “ pada abad ke empat belas, dimana sampai sekarang pengarangnya tetap anonim. John Main menganjurkan kata “ Maranatha “ sebagai mantra, yang artinya adalah “Tuhan datanglah “ 1 Kor 16:22. Fungsi pokok dari formula atau mantra atau kata suci tersebut bukan untuk menekan ataupun menenangkan pikiran yang muncul, melainkan untuk menyatakan intensi untuk mengasihi Allah, menghayati kehadiranNya dan berserah kepada Roh Kudus selama meditasi.

Dengan demikian, meditasi kristiani menurut John Main bermula dari iman kita kepada Yesus Kristus dan diakhiri dengan kasih, berbeda dengan teknik2 meditasi lainnya , yang mempunyai tujuan kesadaran diri/ awareness, ketenangan pikiran, pengobatan, kesehatan maupun kesaktian.

Lebih lanjut, Pater John Main,OSB mengajarkan cara bermeditasi sebagai berikut: ”Anda hanya duduk diam dengan punggung tegak. Duduk santai tetapi sadar penuh. Tutup mata Anda perlahan-lahan. Mulailah mengucapkan kata-doa dalam batin Anda. Kami menganjurkan kata-doa ’MA-RA-NA-THA’. Ucapkan kata ini dalam empat suku kata yang sama panjang. Dengarkan kata-doa itu, saat Anda mengucapkannya perlahan-lahan dalam batin Anda. Jangan memikirkan atau membayangkan sesuatu yang bersifat rohani ataupun yang lain. Bila muncul pikiran dan imajinasi selama bermeditasi, janganlah Anda tanggapi dan biarlah semuanya berlalu. Kalau Anda menyadari bahwa Anda telah melantur, kembalilah dengan rendah hati ke kata-doa Anda. Dengan iman dan kasih ucapkan kata-doa Anda secara terus menerus dari awal sampai akhir meditasi Anda. Bermeditasi setiap pagi dan sore selama dua puluh sampai tiga puluh menit.”

Dengan demikian dapat dipahami bahwa ajaran meditasi dari seorang pandita Hindu kepada John Main dan buku Holy Wisdom merupakan suatu tipping point yang mendorong John Main untuk menemukan akar meditasi dalam tradisi Kristen. Iman kitalah yang membuat meditasi ini kristiani, dan juga karena kita percaya akan Yesus yang menjadi manusia , telah wafat dan dibangkitkan dan kini tinggal dalam hati kita ( “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” ). John Main mulai membuka Komunitas Meditasi Kristiani yang pertama pada tahun 1975.

Setelah meninggalnya John Main, pengembangan pengajaran tentang Meditasi Kristiani diteruskan oleh muridnya Rahib Laurence Freeman, OSB yang membentuk WCCM (World Community for Christian Meditation) pada tahun 1992 atas usulan dari Rahib Bede Griffiths (1906 – 1993) . Saat ini, Komunitas Meditasi Kristiani sudah hadir di kurang lebih 114 negara dan di Indonesia sendiri telah terbentuk hampir 100 kelompok yang berkumpul dan bermeditasi bersama setiap minggu. Untuk daerah Kelapa Gading, Komunitas Meditasi Kristiani St Yakobus bermeditasi bersama setiap hari sabtu pukul 09.00-10.30 di ruang Adorasi Gereja St Yakobus. Untuk infomasi lebih lanjut mengenai Komunitas Meditasi Kristiani St Yakobus, silahkan menghubungi Ibu Agatha Judy di 0815.893.5778 atau email ke prom_jm@yahoo.com

Informasi mengenai Meditasi Kristiani :

1. http://www.wccm.org

2. http://www.meditasikristiani.com

Referensi : Literatur2 Komunitas Meditasi Kristiani, Buku Intim bersama Allah, Buku Meditasi bersama Yesus, Latihan harian Meditasi Kristiani.

Advertisements
%d bloggers like this: