Renungan Minggu 29 April 2012-Kebangkitan Kristus memanggil kita untuk hidup sebagai anak Allah yang menempatkan Kristus sebagai batu penjuru kehidupan kita.

Kebangkitan Kristus memanggil kita untuk hidup sebagai anak Allah.

Rasul Petrus menyatakan bahwa ia menyembuhkan orang sakit itu atas nama Yesus, karena tidak ada keselamatan kecuali dalam Kristus Yesus (Bacaan pertama, Kis.4:8-12a). Dan karena Allah Bapa begitu mencintai kita, Allah mengangkat kita menjadi anak Allah dalam Kristus, agar kita pun kelak menjadi serupa dengan Kristus yang bangkit  (Bacaan kedua, 1Yoh.3:1-2). Sebab Kristus berkuasa atas hidup, berkuasa memberikan maupun mengambilnya kembali, karena Ia yang mengatur hidup ini bagaikan seorang gembala yang baik (Bacaan Injil, Yoh.10:11-18).

Meskipun manusia telah berdosa dan meninggalkan Allah, Kristus mengejar manusia untuk dikembalikan kepada Bapa-Nya dengan tetap hidup dalam Dia. Sebab Kristus adalah Sang Sabda dan segala yang ada dan hidup, agar tetap ada dan hidup, harus mengambil bagian dalam Sang Sabda.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Paska ke-4 ini mengingatkan kita, bahwa diciptakan itu berarti difirmankan, dipanggil untuk hidup. Meskipun manusia karena dosanya menolak untuk hidup, tetapi Allah tetap menghendaki manusia tetap dapat hidup. Bukan hanya dengan menanamkan keinginan dalam hatinya untuk hidup selamanya, tetapi juga dengan mengutus Putera Tunggal-Nya untuk menolong manusia, yang sudah tidak berdaya mencapai hidup kekal.

“Aku ini gembala yang baik…….. dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku…… Tidak seorang pun mengambilnya daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku”.

Di dunia ini tidak pernah ada orang yang pernah melihat ‘hidup’, yang dilihat hanyalah tanda-tanda kehidupan. Demikian pula Kristus, yang memberikan hidup kepada manusia di dunia ini, memberikannya melalui tanda, yaitu menyerahkan hidup kemanusiaan-Nya kepada manusia di kayu salib. Yesus menyerahkan nyawa-Nya bagi manusia, agar manusia hidup.

Karena kita telah menerima hidup dari Kristus, kita disebut anak Allah, yang harus kita hidupi meskipun kita masih di dunia ini, agar kita kelak menjadi seperti Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati.  Tetapi kita juga harus mengakui, bahwa kita tidak mampu menggambarkan seperti apa hidup sebagai anak Allah itu, karena kita menerimanya dalam iman. Karena itu tidak mengherankan, bila hidup sebagai anak Allah itu tidak dimengerti oleh dunia, karena hidup yang kita hidupi itu mengalir dari salib Kristus. (bdk. 1Kor.1:18).

Hidup yang kita hidupi itu dari Allah. Maka kekuatan hidup sebagai anak Allah terletak pada Allah, bukan menurut ukuran manusia dari dunia ini. Hidup sebagai anak Allah itu melawan arus hidup duniawi dan merupakan salib pula bagi kita. Namun demikian hidup sebagai anak Allah adalah suatu kebajikan, karena justru akan membawa keselamatan bagi orang lain. “Para pemimpin umat dan para tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan, maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel,…… oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang     di depan kamu”.

Menghidupi hidup sebagai anak Allah ialah menempatkan Kristus sebagai batu penjuru kehidupan kita. Seperti itulah hidup orang beriman.

Benarkah kita meletakkan Kristus sebagai batu penjuru kehidupan kita, yaitu menjadikan iman kepada-Nya sebagai pertimbangan utama dalam setiap langkah hidup kita?

 

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: