Renungan Minggu 11 Maret 2012-Puasa dan pantang memurnikan pelaksanaan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa dan pantang memurnikan pelaksanaan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Allah yang telah membebaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir, telah menyampaikan hukum-Nya melalui nabi Musa (Bacaan pertama, Kel.20:1-17). Rasul Paulus tak ragu-ragu mewartakan Kristus yang wafat disalib, meskipun hal itu batu sandungan bagi bangsa Yahudi dan kebodohan bagi bangsa bukan Yahudi, karena apa yang terlemah pada Tuhan lebih kuat dari yang terkuat pada manusia (Bacaan kedua, 1Kor 1:22-25). Hal itu dalam pralambang diungkapkan sendiri oleh Kristus, ketika Ia diminta menunjukkan tanda bahwa Ia berhak mengusir para pedagang dari Kenisah, dengan menubuatkan kebangkitan-Nya (Bacaan Injil, Yoh.2:13-25).

Setan itu sangat pandai menyesatkan manusia. Biasanya setan tidak menggoda dengan langsung untuk melakukan yang bertentangan dengan perintah Allah, tetapi ia justru dengan menganjurkan melaksanakan perintah Allah, tetapi – dan ini yang menyesatkan – dengan menggunakan cara setan.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Prapaska ke-3 ini mengingatkan kita, bahwa perintah Allah harus kita laksanakan sesuai dengan kehendak Allah sendiri, bukan menurut kehendak atau cara manusia, apalagi cara setan. Kehadiran Allah itu menyucikan (bdk.Kel.3:5). Kenisah adalah pengganti Kemah Suci, setelah bangsa Israel menetap di Kanaan, tempat Allah diam ditengah-tengah umat-Nya itu. Maka Kenisah juga disebut Bait Allah.

Jadi Kenisah itu Bait (Rumah) Suci, karena disucikan oleh kehadiran Allah, yang tidak sepantasnya dijadikan pasar, meskipun maksudnya untuk menolong ekonomi orang misalnya. “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”.

Menolong orang itu baik, tetapi tidak pada tempatnya bila tanpa memperdulikan kesucian Allah. Hal seperti ini juga dapat terjadi sebaliknya. Sesuatu yang tampaknya tidak baik menurut pemikiran manusia, tetapi karena itu adalah kebenaran yang harus disampaikan, maka tidak menyampaikan itu menjadi salah. Misalnya, menegur seorang atasan yang berbuat salah (dosa) itu tindakan yang benar. Meskipun kalau menegur (tentu dengan cara yang sebaik mungkin), ia dapat dipecat, tetapi kalau ia tidak menegur, Allah yang nantinya akan menuntut tanggungjawab. Memberitakan Kristus yang disalib itu kebenaran yang menyelamatkan. Tetapi “….untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan, untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.  Resiko itu harus berani dihadapi, sebab yang dilakukan adalah kebenaran, yang justru diperintahkan oleh Allah sendiri.

Setiap hukum itu dirumuskan sesingkat mungkin, tetapi padat. Demikian pula dengan hukum Tuhan. Seperti misalnya ‘menguduskan hari Sabat dengan tidak bekerja’. Bekerja yang bagaimana yang dilarang? Kehendak Tuhan ialah bekerja yang mengabaikan Allah, tetapi bekerja bagi Tuhan, itu justru menyucikannya. Hal seperti itu yang banyak digunakan orang Yahudi menyalahkan Yesus. Padahal Yesus melakukan itu justru untuk mewartakan Allah.

Maka mampu menangkap apa-apa yang termasuk atau yang tidak termasuk dalam rumusan itu, adalah suatu kebijakan, yang perlu dilatih agar semakin peka. Puasa dan pantang dapat menjadi sarana latihan itu. Sebab bagaimanapun juga dorongan nafsu itu sangat mudah menghanyutkan, sehingga menggelapkan hati manusia. Dengan cara itulah setan biasanya menyesatkan manusia.

Sadarkah kita bahwa puasa dan pantang itu adalah latihan, agar kita selalu ingat, bahwa dorongan nafsu hanya akan membangun diri kita bila menjadi tanda cinta? Sebab untuk itulah hukum Tuhan diberikan.

St. Sutopanitro, Pr


Advertisements
%d bloggers like this: