MEDITASI DAN KE-RAHIB-AN

Dialog antara Father Frans De Ridder CICM  dan  Father  Laurence Freeman OSB. Memberikan pemahaman mengenai  Meditasi Kristiani.

Meditasi Kristiani    diadakan rutin setiap hari Sabtu pkl. 09.30 pagi di Gedung Pastoral Gereja Yakobus, umat yang berminat dapat langsung ikut dalam kegiatan ini.

Father Frans De Ridder CICM  adalah seorang misionaris dari Kongregasi Hati Maria Tak Bernoda. Setelah 15 tahun di Taiwan ia pindah ke Singapura pada tahun 1981

Father  Laurence Freeman OSB Lahir di London pada tahun 1951, ia  adalah biarawan Benediktin belajar  meditasi pada  John Main, sebagai Direktur Komunitas Dunia untuk Meditasi Kristiani , dan sebagai pendukung perdamaian , dialog dan pemahaman

FR Laurence : Father Frans, apakah betul anda datang ke Asia waktu berusia 25 tahun ?

 FR Frans       : Betul, pada tahun 1965, sebagai imam yang baru di tahbiskan, saya dikirim ke Taiwan, dan kemudian saya tinggal disana  selama 15 tahun  sebagai misionaris.

 FR Laurence: Dan setelah itu ?

FR Frans        : Kemudian saya di pindah keSingaporepada tahun 1981.

FR Laurence : Dimanakah anda mengikuti  training2 ?

FR Frans        : Saya seorang misionaris CICM ,jadi saya mengikuti training di Belgia. Untuk philosophy saya mendapatkan training di  Perancis dan untuk teologi  diBrusselsselama setahun dan diLouvainselama 3 tahun.

FR Laurence  : Dengan tinggal di Asia, hal hal apakah yang telah mempengaruhi pengertian anda mengenai Tuhan Yesus dan Injil ?

FR Frans        : Well, memang sebuah kejutan buat saya. Saya datang ke Taiwan dan menyadari bahwa 95% dari penduduk disana  tidak tahu tentang  Yesus Kristus.  Lalu saya berpikir : Apakah saya harus membawa Yesus ke sini ?, apakah saya harus membawa Tuhan kesini ?.

Kemudian dengan cepat saya sadar ,bahwa  Tuhan selalu ada  disini, tetapi apakah orang2 disini menyadari kehadiran Tuhan ?

Saya sungguh2 terpesona dan tergugah minat saya, ketika suatu waktu  saya mengunjungi vihara  vihara Budhist di Taiwan. Sebagai seorang misionaris muda, saya mengunjungi beberapa vihara dan saya perhatikan, bahwa Bhiku dan Bhikuni yang saya jumpai , memancarkan kedamaian dan kesederhanaan ,sebagai hasil dari meditasinya.

Saya selalu ingin tahu, pengalaman apakah yang membuat mereka begitu  damai, sederhana dan penuh percaya diri ?

FR Laurence   : Apakah hal itu menyebabkan anda berpikir , mungkin ada sesuatu yang mereka punyai dan tidak anda punyai ?

FR Frans          : O ya, bahkan saya pernah berpikir (tidak kesampaian, hanya dalam pikiran saja), andai saya mempunyai waktu, mungkin saya akan mundur dari kegiatan pelayanan , untuk mempelajari: Apa  yang memotivasi orang2 tersebut , sehingga mau melewatkan seluruh hidupnya di vihara, mengunakan  banyak  waktunya untuk ber meditasi ?

Saat ini, di Taiwan ada gerakan yang cukup signifikan dari orang2 muda untuk bergabung dalam  vihara vihara. Pu Li adalah suatu vihara yang sangat besar dan ada ribuan bhiku/bhikuni yang hidup disana dalam  kesederhanaannya. Maka , pasti ada suatu pengalaman  yang  dialami mereka , yang   membuat   mereka  merasa  bahwa   hidupnya   sudah   penuh    atau   lengkap (fulfilling); kalau tidak, mestinya mereka tidak akan bergabung ke vihara, mereka tidak akan tinggal di vihara.                                                                                                                            1/4

FR Laurence   :   Jadi Asia, menurut hemat saya,telah memperkenalkan kepada anda suatu dimensi  kontemplatif dari  spiritualitas. Training2 apakah  yang telah anda dapat sehubungan dengan hal ini ? Apakah anda di perkenalkan dengan hal ini selama  tahun tahun pendidikan  anda  ?

FR Frans          : Well, dalam seminari kami di ajarkan untuk bermeditasi, tetapi bersifat sangat logika dan intelektual; misalnya menganalisa  perikop2 Injil, mencoba mengidentifikasikan dan berdoa kepada Tuhan untuk hal hal yang kita inginkan. Sehingga lebih condong menggunakan pikiran.

Dalam seminari, dalam masa percobaan khususnya, kami di ajarkan untuk bermeditasi  2 X sehari. Tetapi untuk anak  anak muda seumuran 18-19 tahun, hal itu benar2  suatu tugas yang berat. Setelah lewat masa percobaan, saya pikir tidak ada lagi diantara kami yang tekun melakukan meditasi lagi 2 X sehari.

Saya mencoba untuk setia  bermeditasi setiap hari , dengan  membaca buku2 karangan penulis2 spiritual yang terkenal. Saya baca sekali dua kali ,dan mencoba memperoleh  kepuasan spiritual  dari bacaan2 tersebut. Tetapi saya merasa  semuanya terlalu intelektual, lebih condong  menganalisa daripada mengalami kehadiran Tuhan.

FR Laurence    : Adakah sesuatu yang  anda rasakan ganjil, ketika merefleksi masa lalu anda ?

Berapa tahun anda sudah menjadi Imam  ?

FR Frans           : 44 tahun

FR Laurence    : Dalam refleksi kemasa lalu anda, apakah saat ini anda merasa aneh , bahwa  dalam masa masa percobaan, dalam pelajaran teologi dan filosofi , anda tidak diperkenalkan dengan doa kontemplasi atau  pengalaman 2  dalam berdoa kontemplasi ?

FR Frans           : Dimensi dari doa kontemplasi tidak banyak di berikan kepada kami. Kami lebih banyak  disemangati untuk bermeditasi harian dengan cara cara yang lebih intelektual, dengan pemikiran dan analisa.  Kami di ajarkan juga bahwa ada beberapa cara meditasi, dan diberi tahu bahwa Tuhan akan memimpin kami. Tuhan akan membimbing kami dari suatu tingkat meditasi ke tingkat berikutnya.

Saya harus mengakui, setelah saya datang ke Asia, saya suka membaca buku2 spiritual. Saya  mempraktekkannya, me refleksi kehadiran Tuhan, sebagai hal yang berbeda dengan keberadaan Tuhan.

Saya pikir keberadaan atau eksistensi dari Tuhan ,lebih merupakan topik filosofis.

Apakah Tuhan ada ? Tuhan mengetahui.

Tetapi mengenai kehadiran Tuhan ?, semakin kita menyadari dan larut bersama kehadiran Tuhan, saya percaya bahwa kita merasakan bahwa hidup kita akan lengkap.

Ini layaknya kesadaran yang dalam ,hampir hampir terasa jasmaniah,  seperti suatu nyala akan kehadiran Tuhan, dimana kita hidup dan mengalami sendiri.

Jadi dengan cara itu, saya pikir kekristenan  adalah mengalami kehadiran Tuhan seperti cara Yesus mengalaminya.

Merasakan kehadiran Tuhan seperti cara Yesus  mengalaminya.

Menurut saya, bagus sekali ketika Philip dalam Injil John mengatakan :” Tuhan,  tunjukkan kepada kami Tuhan bapaMU ?”

Dan Yesus menjawab :” Philip, bagaimana kamu bisa bertanya seperti itu? Ketika kamu melihat Aku, kamu melihat Tuhan, sebab Aku tinggal didalam Tuhan dan Tuhan tinggal didalam Aku.

Dengan demikian, saya pikir pengalaman Yesus diatas bukan masalah arkeologi, yang terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu. Saya percaya apa yang terjadi pada Yesus, dan ini lebih teologis,harusnya dapat terjadi juga kepada kita, dimana kita hidup didalam Dia dan Dia didalam kita pada saat ini. Dan dengan lebih dalam menyadarinya, saya percaya itu adalah  intisari dari kepercayaan kita.

FR Laurence    : Apa yang merupakan sumber utama bagi anda untuk menyadari pengalaman akan kehadiran Tuhan ?

FR Frans           : Saya pikir , sumber itu adalah buku2 karangan John Main. Dan juga banyak dari buku2 karangan anda yang telah saya  baca. Saya juga telah mendengarkan ceramah anda di Louvain.  Pada akhir tahun90 –an, saya ada disana dan mendengarkan refleksi anda, rasanya di Universitas Katolik Parish di Louvain. Hampir tiap hari saya baca  buku bukunya John Main, dari satu paragraph ke paragraph berikutnya ditiap- tiap halaman .

Saya baru saja selesai  membaca salah satu bukunya, jarang saya membaca buku yang sama sampai dua kali, tetapi buku itu saya baca sampai tiga kali.

FR Laurence     : Buku yang mana ?

FR Frans            : Judulnya “ The Present Christ:, disini John Main mengatakan bahwa setiap kali kita bermeditasi, kita makin dalam memasuki misteri Ilahi. Dan  karena Tuhan  itu maha besar, karena Tuhan adalah misteri diluar batas pemahaman kita, meditasi itu adalah suatu perjalanan yang tidak akan pernah berhenti, dari hari ke hari makin dalam menuju misteri Ilahi. Karena itulah dalam bermeditasi kita tidak akan pernah lelah, tidak pernah bosan maupun frustasi, sebab kita selalu maju dan maju makin dalam  ke misteri Ilahi.

FR Laurence     : Saya pikir Imam2 yang mendengarkan anda, akan mengira bahwa anda mestinya  hidup di biara kontemplasi yang terletak di tempat yang jauh dan sunyi. Padahal anda pada kenyataannya sangat sibuk dan aktif  sebagai imam. Apakah anda dapat menjelaskan mengenai tugas2 anda sebagai imam?

FR Frans            : Well, saya memang benar penuh kesibukan, saya terlibat dalam Marriage Encounter, Engaged Encounter. Saat ini  saya sedang membimbing retret untuk remaja ( Single Choice weekend), juga saya melayani Misa di Tampines serta  Misa dalam bahasa Tionghoa  pagi ini, dan saya memberkati sebuah pernikahan kemarin pagi. Memang saya benar benar sangat sibuk.

FR Laurence     : Apakah anda sudah bermeditasi ?                                                                         

FR Frans           :  Ya sudah, saya meditasi 2 X sehari, pagi dan menjelang malam.  Kadang2 walaupun saya pulang kerumah pada waktu tengah malam, saya tetap akan meditasi selama 30 menit. Saya percaya meditasi akan menyeimbangkan hidup saya.  Waktu kita tidak akan berkurang dengan bermeditasi, ketika kita melewatkan waktu bersama Tuhan atau tinggal didalam Tuhan. Kita akan membutuhkan waktu yang lebih sedikit untuk tidur, saya merasa lebih bersemangat dan bertenaga. Meditasi tidak membuat  kita frustasi, ini adalah masalah keyakinan, meditasi akan menyeimbangkan hidup kita. Seperti dapat kita baca pada Lukas 10:27 yaitu : Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu…….

Sudah barang tentu, intelektualitas dan menyiapkan homili adalah sangat penting bagi Imam seperti saya, tetapi ketika saya sedang meditasi ,saya tidak menyiapkan homili saya, tetapi hanya fokus  akan kehadiran Tuhan dan mengucapkan mantra ma-ra-na-tha, walaupun banyak godaan yang timbul.

Godaan itu antara lain adalah; saya mungkin saja berpikir:” saya lebih baik menulis mempersiapkan homili yang harus saya berikan keesokan hari” tetapi saya tidak menuruti pikiran tersebut.  Dan kemudian setelah selesai meditasi, ketika saya duduk mempersiapkan homili, saya tidak perlu kuatir karena bahan homili itu datang dengan sendirinya mengalir ke pikiran saya, untuk kemudian  saya tuliskan.

Kata kuncinya adalah “ disiplin”, sediakan atau adakan waktu untuk Tuhan.

Beberapa orang berkata :” Father, saya tidak  mempunyai waktu untuk Tuhan”

Saya menjawab :” Anda berbohong, sebab bukan soal mempunyai waktu, tetapi kita harus mengadakan waktu, dan bila anda mengadakan waktu untuk Tuhan, urusan urusan anda berikutnya akan lancar lancar saja. Jangan kuatir mengenai waktu untuk schedule anda. Tetapi adakan waktu untuk Tuhan dan sisanya akan  lancar dan berjalan sesuai dengan yang anda harapkan.

Diterjemahkan secara bebas dari Dwelling in Love  oleh Edhi Siswoyo untuk komunitas MK Yakobus

Jakarta, 22-02-2011

Advertisements
%d bloggers like this: