Renungan harian 20 Juli 2011- Benih yang ditabur oleh sang penabur

Rabu, 20 Juli 2011
Pekan Biasa XVI (H)

Daniel, Nabi; St. Laurensius dr Brindisi; St. Viktor dr Marseilles

Kel 16:1-5,9-15,
Mzm 78:18-19,23-24,25-26,27-28,
Mat 13:1-9

Bacaan Injil : Mat. 13:1-9

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.

Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.

Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Renungan
20 Juli, Rabu

Kel. 16:1-5.9-15

Mzm. 78:18-19.23-24.25-28

Mat. 13:1-9

Yesus tidak pernah hilang akal dalam mencari metode untuk mengungkapkan nilai-nilai ajaran-Nya. Berbagai macam cara yang mudah Ia gunakan untuk membuat para pendengar-Nya mengerti dengan gampang pokok ajaran yang Ia tawarkan. Salah satu cara yang Ia pakai adalah bercerita dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan.

Dalam kesempatan berbicara tentang seorang penabur, Yesus menggambarkan siapa diriNya sebagai seorang Guru yang mengajar dari desa ke desa dan dari kota ke kota. Yesus tahu bahwa sudah terlalu banyak nilai yang Ia tawarkan melalui pengajaran-pengajaranNya. Tetapi Ia juga menyadari, bahwa apa yang pernah Ia ajarkan dan didengar oleh ribuan orang, pasti ditanggapi dengan kesan yang berbeda-beda.

Ada orang yang menanggapi dengan serius dan ada yag menanggapi dengan serius dan ada yang menanggapi dengan santai bahkan cenderung meremehkanNya. Karena itu, Yesus mencoba menggambarkan tipe para pendengar dalam bentuk simbolis ini, Yesus secara tidak langsung mau mengatakan bahwa sebenarnya semua manusia itu dari lahirnya sudah diberikan  potensi-potensi dasar untuk memhami rahasia kehidupannya dalam hubungan dengan penciptanya. uUntuk memahami rahasia hiudp, orang mesti menciptakan ruang dalam hatinya untuk menyimpan dan merenung Firman Tuhan.

Firman Tuhan yang disimpan dalam hati akan menjadi daya yang dapat mengarahkan kecenderungan manusiawi yang kadang  menuntun kita ke jalan yang salah. Karena itu bila seseorang mampu menyelaraskan Firman Tuhan dengan potensi-potensi dasar yang ada dalam dirinya berupa bakat, kepandaian dan ketrampilan, maka tidak mustahil ia akan menjadi orang yang memiliki karakter seorang “nabi” yang selalu menjaga keseimbangan antara apa yang ia katakan dengan apa yang ia lakukan.

Kita semua mestinya berusha untuk menjadi pribadi yang memiliki karakter seorang “nabi” sehingga, kehadiran kita membersitkan contoh hidup yang membuat orang dapat melihat Allah hadir dalam hidup kita.

Sumber : berjalan bersama sang sabda 2011

 

%d bloggers like this: