Renungan harian 25 Juni 2011-”Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

Sabtu, 25 Juni 2011
Pekan Biasa XII (H)
St. Gulielmus; Sta. Febronia

 

 

Kej 18:1-15,
Mzm MT Luk 1:46-47,48-49,50,53,
Mat 8:5-17
Bacaan Injil : Mat. 8:5–17

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira men­da­patkan Dia dan memohon kepada-Nya: ”Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya: ”Aku akan datang menyembuh­kannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: ”Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: ”Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ”Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”

Renungan
Rasanya sulit sekali bagi Sara untuk percaya akan perkataan Tuhan bahwa tahun depan ia akan mengandung seorang anak laki-laki sementara dirinya sudah lanjut usia dan mati haid. Ketidakpercayaan Sara itu membuat Tuhan menasihatinya melalui Abraham, ”Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki” (Kej. 18:14). Itulah Allah kita, tidak ada yang tidak mungkin bagi orang yang percaya kepada-Nya.
Mukjizat Allah akan terjadi saat orang mau terbuka dan berserah diri pada kehendak-Nya. Keyakinan ini ada pada perwira dari Kapernaum: ”Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Ungkapan itu menunjukkan pengakuan dirinya yang rapuh sehingga tidaklah pantas dikasihi Tuhan, namun sekaligus ia mengungkapkan keputusannya agar Tuhan bersabda saja supaya hambanya sembuh. Dan, apa yang terjadi, seketika itu juga hambanya sembuh. Itulah iman, berani percaya kepada Sabda Allah sepenuhnya tanpa syarat apa pun.
Tuhan, aku percaya, tidak ada yang mustahil bagi-Mu. Teguhkan imanku ini. Amin.

Sumber : Ziarah Batin 2011

Advertisements
%d bloggers like this: