Renungan harian 24 Juni 2011-Kelahiran Yohanes pembaptis

Jumat, 24 Juni 2011

HARI RAYA KELAHIRAN
St. YOHANES PEMBAPTIS

Yes 49:1-6,
Mzm 139:1-3,13-14ab,14c-15,
Kis 13:22-26,
Luk 1:57-66,80
Bacaan Injil : Luk. 1:57–66,80

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun mela­hirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak sau­daranya mendengar, bahwa Tuhan telah menun­jukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya ber­kata: ”Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya: ”Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: ”Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.
Maka ketakutanlah semua orang yang ting­gal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu men­jadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, mere­nungkannya dan berkata: ”Menjadi apa­kah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan me­nyertai dia. Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menam­pakkan diri kepada Israel.

Renungan
Kelahiran seorang anak di tengah keluarga selalu memunculkan sebuah harapan: ”Dek, nanti besar mau jadi apa?” Anak yang diajak bicara itu pastilah hanya menjawab dengan senyuman tanpa kata. Demikianlah juga kelahiran Yohanes, membuat banyak orang bertanya-tanya:”Menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertai dia!” Apalagi namanya tidak sama dengan nama ayahnya Zakharia. Ditambah lagi, ia baru bisa berbicara kembali setelah anaknya lahir, selama istrinya Elisabeth mengandung, ia menjadi bisu.
Ternyata kelahiran Yohanes memang tepat pada waktunya untuk ”mengantar” perubahan dari tradisi para nabi menuju tradisi baru yang dimulai dengan kelahiran Yesus. Yohanes berperan ”mengantar” umat Israel meninggalkan masa lalu guna memasuki ”era baru” untuk hidup bersama Yesus, Sang Anak Domba Allah. Ia menjalankan perannya itu dengan penuh kerendahan hati. Kerendahan hati itulah yang ditunjukkan Yohanes kelak, saat ia membaptis Yesus di Sungai Yordan. Bahkan demi kebenaran iman, ia akhirnya mati dipenggal kepalanya oleh Herodes karena telah berani mengkritik perkawinannya dengan Herodias, istri Filipus, saudaranya (bdk. Mat. 14).
Itulah tugas ”mengantar” yang penuh risiko, bahkan sampai kematian. Apakah kita juga yakin dipanggil untuk ”mengantar” saudara kita sampai mengenal Yesus yang kita imani dengan gaya hidup yang benar seturut Sabda-Nya?

Bapa, aku bersyukur karena Yohanes Pembaptis telah dilahirkan untukku sehingga aku semakin mengenal Putra-Mu Yesus yang Engkau utus agar hidupku makin dimurnikan oleh Darah-Nya. Amin.
Sumber : Ziarah Batin 2011

About these ads
%d bloggers like this: