Apakah boleh ikut Misa nyambung ?

Banyak pertanyaan dan informasi menarik  muncul dalam acara dialog umat dan Romo Anton pada acara Dialog  mengenai Liturgi dalam rangka ulang tahun  ke 25 Paroki Yakobus.

Berbagai pertanyaan di sampaikan kepada Romo Anton sebagai Romo kepala Paroki, acara yang diadakan secara bergiliran dengan wilayah yang berbeda.

Pada tanggal  27 Februari 2011  hari Minggu  adalah giliran wilayah Lukas, Matius, Paulus Petrus,Philipus dan Thomas.

Acara diadakan di Aula Stasi Santo Andreas Kim-Taegon, dimulai  dari jam 11.00  s/d 13.30 WIB

Berikut ini laporan  Laurensius Londry yang ditulis dalam milis Yakobus.

Pertemuan dialog  kali ini tidak begitu ramai dibandingkan dengan pertemuan sebelum nya  dimana yang hadir sangat banyak  sehingga  tidak ada  kursi kosong  dan  konsumsi habis.
Kata sambutan dan doa pembukaan dilakukan langsung oleh Ketua Seksi Liturgi Werner Goana, hadir juga anggota seksi liturgi Freddy Sayuti, Sukandi disamping  itu  hadir juga  anggota DepaHar Vincentius Henry Soelistyo.

Dalam kesempatan tersebut hadir juga para Prodiakon diantaranya  Prodiakon Johanes Godong dan Prodiakon Jose Risanto.

Romo Anton mengingatkan penting dan perlunya  persiapan dirumah sebelum mengikuti Ekaristi , dan dalam perayaan Ekaristi digunakan semua  lima panca-indera manusia ,seperti mata untuk memandang dekorasi bunga altar, telinga untuk mendengar koor bernyanyi dan mendengarkan homili, penciuman untuk mencium asap dupa pada perayaan-perayaan besar dan alat perasa untuk merasakan salam-damai diantara sesama.

Berikut ini jawaban Romo Anton atas pertanyaan yang timbul mengenai Liturgi :

Apakah tepuk-tangan dibolehkan ketika suatu koor tampil dengan maksimal dan memukau ???
Kalau umat spontan melakukan hal itu maka tentu-nya tidak bisa dicegah oleh para Romo asalkan dengan catatan Romo tidak memprovokasi umat untuk melakukan hal demikian dan juga asal-kan umat tidak memprovokasi umat
lain-nya melakukan maka itu adalah hak pribadi umat tersebut karena memang para Romo itu tidak dapat menyetop atau menghentikan umat untuk tidak bertepuk tangan dan Bukan berarti juga Koor yang tidak mendapat-kan tepuk-tangan dari umat itu Koor yang jelek …. tidak begitu lho ya !!!???

Sehabis komuni langsung pergi berdoa digua Maria bagaimana ???
Menurut Romo …. itu adalah hal yang tidak normal dan tidak wajar kalau umat sampai melakukan hal demikian tetapi sekali lagi kalau ada umat yang melakukan hal ini tentu-nya Romo tidak bisa mencegah-nya !!!

Kalau ada umat yang mau minta doa penyembuhan saat misa bagaimana ???
Kalau ada umat yang meminta doa penyembuhan sebaik-nya setelah selesai misa saja. Kalau sebelum misa bisa mengganggu konsentrasi persiapan Romo dalam mempersembahkan misa.

Masalah Romo sering menyebut ‘saya pasti sembuh’ ???
Menurut Romo ini hanya sekedar penghayatan pribadi Romo saja selama ini dimana memang di Rubrik tercantum jelas yang benar adalah ‘Saya Akan Sembuh’ dan memang pertanyaan ini sering dilontarkan oleh umat dalam setiap gelombang wawan-dialong alias paling sering ditanyakan tetapi sekali lagi Romo berkata  dia menyebut ‘Saya Pasti Sembuh’ itu hanya merupakan penghayatan pribadi. Hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan.

Masalah ambil air-suci dan melakukan tanda-salib setelah misa berakhir???
Ini juga merupakan penghayatan pribadi umat yang bersangkutan dimana kalau umat tersebut merasa mau dan perlu melakukan-nya …. ya silahkan dilakukan karena memang tidak ada peraturan baku dari Gereja Katolik dalam hal ini
….. dalam arti kata ….. dilakukan ya cukup baik dan bagus tetapi kalau tidak mau melakukan ya juga tidak apa-apa .
Yang pasti saat mau merayakan misa saja kita mesti ambil air-suci dan melakukan tanda-salib dengan air-suci tersebut.

Romo berdosa mempersembahkan misa…… apakah misa-nya tetap sah ???
Sekalipun Romo-nya berdosa maka misa yang diselenggarakan tetap sah karena kuasa Allah itu lebih tinggi daripada alat-Nya dan tidak akan mengurangi rasa Illahi-Nya, rasa kekudusan-Nya maupun rasa keagungan-Nya.

Ikut Misa malam Natal dengan misa Natal (apakah masih perlu ikut) ???
Ikut misa malam Natal adalah  Baik tetapi kalau masih mau ikut misa Natal besok-nya juga akan sangat baik  …. kalau tidak sampai ikut juga tidak apa-apa sih karena misa malam Natal ya sudah merayakan Natal.
Tetapi lain hal kalau ikut misa malam Paskah tetap umat harus ikut misa Paskah-nya juga pada keesokan hari-nya karena Tri-Hari-Suci itu adalah upacara Tirakatan jadi beda sehingga umat tetap mesti wajib ikut misa Paskah
keesokan hari-nya.

Masalah  umat yang terlambat.
Sebenar-nya tidak boleh ada satu-pun umat yang terlambat ikut menerimakan hosti suci (komuni) karena penyambutan komuni itu harus-lah di-ikuti dari awal hingga akhir misa jadi sekali sudah terlambat mengikuti misa maka sebaik-nya ya ‘gak usah-lah terima komuni- (umat harus sadar diri dalam hal ini).

Masalah menggunakan  pakaian yang tidak pantas kegereja.
Baju-baju yang tidak pantas jangan dipakai ikut misa , masalah pakai baju  umat  harus sadar karena ini menyangkut
tata-krama kesopanan.
Memang kadang-kadang amat dilematis juga   (kata Romo dalam menjawabpertanyaan umat yang hadir) karena kalau ditegur kadang-kadang umat bisa lebih galak dari yang menegur ….. belum lagi kata-nya tersinggung- lah
karena ditegur dan ujung-ujung ajak berdebat dan bertengkar.

Apakah boleh ikut Misa nyambung ?

Misalkan begini ….. si ‘A’ datang terlambat ikut misa dan bacaan injil pertama sudah liwat  lalu si ‘A’ menyiasati untuk ikut langsung masuk ke misa jam yang berikut-nya hanya khusus untuk mengikuti dari awal sampai pada
baccan injil pertama …. setelah habis bacaan injil pertama baru-lah si ‘A’ ini keluar dan pulang.
Nah …. menurut Romo  …. hal-hal demikian ini tidak dikenal ada istilah umat menyambung misa berikut-nya untuk menambal keterlambatan pada misa yang dia ikuti pertama.

Masalah hosti digigit-gigit dimulut bagaikan krupuk ???
Ini sebenar-nya lebih kepada penghayatan pribadi masing-masing umat saja ,masalah hosti itu digigit-gigit dulu seperti krupuk sampai mengeluarkan bunyi krupuk baru dimakan ataupun ada juga yang mengunyah-ngunyah dulu
seperti permen karet baru dimakan.
Lalu Romo kita bilang bahwa tercatat baru hanya ada empat umat saja yang menerimakan hosti kudus langsung lewat mulut-nya.

Bagaimana kalau lagi datang tamu tak diundang bagi perempuan ?
Gereja Katolik itu tidak-lah mempermasalahkan kalau perempuan sedang datang tamu tak diundang untuk tidak boleh menyambut komuni kudus karena merasa diri sedang kotor atau tidak layak tetapi kalau mau disambut …. ya
disambut saja karena tidak apa-apa ….. toh ini khan wajar dan siklus normal hidup manusia yang memang harus setiap bulan datang tamu tak diundang…… jadi menurut  Romo tidak ada masalah untuk pergi menyambut komuni juga.

Saat  bernyanyi bapa kami , tangan harus bagaimana ???
Terserah umat mau bergandengan- tangan-kah dengan keluarga-nya sambil bernyanyi Bapa Kami maupun menengadahkan kedua tangan-nya keatas adalah tidak ada peraturan baku dalam hal ini jadi bebas saja dan menurut
penghayatan pribadi masing-masing saja.

Saat terima komuni harus ucapkan Amin.
Jadi memang penting untuk harus ucap-kan kata ‘Amin’ saat kita terima komuni dari para prodiakon karena kita meng-amini bahwa itu adalah tubuh Kristus yang kita sambut.
Memang ada satu dan dua prodiakon yang belum mau memberikan  hosti dulu ketangan umat-nya karena umat tersebut tidak mengucap kata ‘Amin’ sehingga kata-nya sering terjadi saling melotot satu-sama lain antara prodiakon dan umat yang ngotot tidak mau ucapkan kata ‘Amin’ tersebut.

Bagaimana kalau ada hosti yang jatuh ?
Segera cari Prodiakon atau Romo untuk mengambil-nya kembali tetapi saat darurat dan tidak ada satu-pun Romo maupun Prodiakon yang bisa karena sedang  sibuk  maka umat itu berhak langsung memungut-nya dan langsung masukkan  kedalam mulut-nya sambil berkata ‘Amin’.

Sumber  : Milis Yakobus oleh Laurensius Londry

Advertisements
%d bloggers like this: