Laporan dari Mentawai- (Bagian 1) Pulau Sikakap

Bencana gempa bumi kepulauan Mentawai diikuti  Tsunami menyebabkan kerusakan infrastruktur  dan nelan banyak korban sedikitnya Ratusan orang meninggal dan sekitar 600 orang hilang akibat gempa dan tsunami di mentawai tersebut,

Berikut ini  gambar setelah Tsunami:

 

Nama korban Tsunami mentawai
Video Korban Tsunami mentawai

Foto tsunami Mentawai

Berikut ini perjalanaan dan  kegiatan KBKK dalam mebantu penduduk di pulau sekitar   Mentawai – pulau Sikakap dan Sipora.

DARI SIKAKAP SAMPAI SIPORA
Rekam Jejak Pelayanan JPIC-KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan)


Dari Padang  ke pulau Sikakap ( 30 Nov- 1 Des )

Selasa pagi, 30 November 2010, tim JPIC dan KBKK tiba di Padang. Tim diantar dr.IreneSetiadi.

Di Padang sudah ada Sr. Lusiana, FCH dari JPIC FCH dari Palembang yang telah tiba beberapa jam sebelumnya.

Tim langsung menuju Kantor Karitas Padang. Rapat koordinasi dengan tim KaritasKeuskupan memberi sedikit gambaran tentang situasi umum bencana tsunami, dampak,dan penanganan pasca bencana. Romo Agus, Pr, Direktur Karitas Keuskupan menayangkan foto-foto korban dan berbagai kegiatan tanggap darurat yang telah dilakukan.

Diperoleh informasi bahwa ada dua Pulau, yakni Sikakap dan Sipora yang terkena dampak langsung bencana.


 

Sikakap, karena akses transportasi dan komunikasi cukup  baik, maka sangat banyak dibanjiri relawan dari berbagai macam lembaga.

Tetapi kondisi alam dan keterbatasan akses komunikasi dan informasi lokal telah memaksa banyak relawan meninggalkan Mentawai dalam keadaaan tidak terurus.

Hanya ada beberapa lembaga yang masih eksis membantu masyarakat korban. Sedangkan Sipora sama sekali jauh dan sepi dari hiruk pikuk bantuan. Padahal kondisi kerusakannya sama saja.

Selain Karitas Keuskupan Padang, masih ada SurfAid dan satu dua lembaga yang sempat mengunjungi Sipora. Rm. Agus juga menyampaikan kebutuhan real masyarakat korban yang saat ini berada di pengungsian.

Setelah mendapat informasi yang cukup, tim menuju Keuskupan sambil menyiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan ke Sikakap.

Sore harinya, kira-kira pkl. 15.00 tim menuju pelabuhan Bungus diantar Rm. Agus, Dokter Irene, Pak Steve, dan Ibu Linda.

Tim yang akan berangkat berjumlah 9 orang: Pak Jack (Kepala Suku), dr.Ahmad Haumar, Julia dan Stephani (mahasiswa kedokteran semester akhir dari Jerman), Timotius Muda dan Herilianus (relawan dr PMKRI Pusat), Pak Valerianus
(Komodo Fundation), Sr. Lusi, FCH (JPIC FCH), saya sendiri dari JPIC OFM.

Kami didampingi pak Stef Tokan dari Karitas Keuskupan. Pkl 17.00 kapal Ambu-Ambu melepas sauh menuju Sikakap dan tiba sekitar jam 06.00. Pastor Paroki Sikakap,Rm. Pei, Pr menjemput kami di pelabuhan dan langsung diantar ke Pastoran.

Seharian kami disarankan istirahat menyiapkan fisik dan mental untuk terjun ke lokasi.

Kegiatan di Pulau Sikakap  (1 Des – 4 Des)

Malam harinya diadakan rapat koordinasi bersama dengan tim karitas. Kesepakatannya, kamis tanggal 02 Desember tim dokter memberi pelayanan medis dikilo 37. Tetapi karena kesulitan transportasi, kunjungan sekaligus pelayanan medis ke titik pengungsian ini harus ditunda.

Tim dokter bersama pak Jack dan pak Valerianus ke Puskesmas. Sedangkan Sr. Lusi, Rm. Bernard Lie, dan saya sendiri berkunjung ke Matobe, salah satu hunian baru yang dibangun oleh Karitas Keuskupan Padang pasca gempa 2007.

Sorenya kami mendapat berita tidak gembira kalau dua gadis Jerman telah memutuskan untuk bergabung dengan CFK, salah satu NGO di bawah naungan GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai).

Tampaknya kepindahan mereka dipicu oleh keterbatasan transportasi ke lokasi pelayanan. Seluruh transportasi darat hanya tergantung pada armada IOM dan PMI yang sangat terbatas.

Malam itu juga segera diadakan rapat evaluasi.Kesepakatannya, tim dipecah menjadi tiga. Pak Jack bersama dokter ke kilo 37.Sr. Lusi, pak Valen, dan saya sendiri akan berangkat ke Siporabersama Rm.Bernard.Sedangkan Timo dan Heri akan bergabung dengan tim distribusi logistik.

Besoknya, masing-masing tim mulai bergerak. Jumat, 04 Desember 2010, tepat pkl 12.00, menggunakan kapal motor KBKK1 berkekuatan 80 pk (satunya masih dalam proses pembuatan di Siberut)  kami bergerak dari Sikakap menuju Sioban. Sioban adalah salah satu kecamatan yang terletak di pulau Sipora.

Kami terdiri dari 7 orang: Sr. Lusi FCH, bapak Valerianus Reku, Rm. Bernard Li, Pr (pastor Stasi Tuapejat), Mas Agus Y. Ranu (Kameramen Karitas Keuskupan Padang), Bapak Jhoni beserta anaknya (motoris).

Dusun Panairuk (ujung Utara pulau Sikakap)

Kami berangkat berangkat tepat pkl 12.00 dan langsung disambut hujan dan badai. Hati mulai cemas. Sr. Lusi berteriak-teriak, yang lain pura-pura tenang, dan Rm.Bernard asyik bercerita tentang masa lalu.

Kabut tebal menyelimuti laut. Jarak pandang terbatas. Sudah terlanjur berada di tengah laut, perjalanan tidak bisa dihentikan lagi. Hujan dan badai belum mau berhenti. Rm. Bernard akhirnya memutuskan untuk berhenti di ujung utara pulau Sikakap, tepatnya di dusun Panairuk. Pak Jhony mengurangi kecepatan boat dan perlahan-lahan menepi.

Di tempat ini yang dijumpai pertama adalah bekas gereja lama yang dihantam gempa tahun 2007. Setelah itu kami menemukan kampung Panairuk.

Ada beberapa rumah yang masih berpenghuni. Sedangkan rumah yang lain sudah ditinggalkan dalam keadaan rusak ringan. Kebanyakan rumah-rumah itu bergeser sekitar lima sampai 10 meter dari posisi awal akibat hantaman tsunami.
Kami langsung disambut beberapa orang yang mengenal dengan sangat baik Rm.Bernard. Lantas kami diantar ke lokasi pengungsian melewati jalan setapak berlumpur hampir setinggi lutut.

Lokasi pengungsian ada di atas bukit dengan jarak kira-kira 1 km dari kampung lama. Setelah hampir 30 menit perjalanan, sampailah kami di lokasi.

Di sini ada 39 kk yang tinggal di tenda-tenda darurat. Mereka sibuk membenahi hunian baru, terutama penyedian material kayu dan pembersihan bakal lokasi rumah.

Kebutuhan untuk tanggap darurat sebenarnya sudah tidak mereka butuhkan lagi, selain kebutuhan medis dan trauma healing. Bantuan dari Karitas Keuskupan Padang dan beberapa lembaga lain sudah cukup membantu mereka.

kendati demikian,kebutuhan domestik seperti alat masak, lampu teplok, peralatan pertanian dan pertukangan masih sangat mereka butuhkan.

Setelah hampir satu jam di Panairuk, kami kembali ke pantai untuk melanjutkan perjalanan ke Sioban.

Ini dia yang paling mendebarkan. Kami harus mengarungi selat antara pulau Sikakap dan Sipora dengan tinggi gelombang 2-3 meter. Boat dihantam kiri kanan, diangkat dan dibanting. Semua diam mencekam.

Setelah perjalanan hampir 2 jam, tibalah kami di Sioban. Pastor Paroki, Rm. Matius sudah menunggu kami di tepi pantai depan pastoran.

Dr.Irene Setiadi, KBKK

Advertisements
%d bloggers like this: