Kepribadian yang utuh dewasa dan matang

Renungan 29 Agustus 2010

Kerendahan hati yang sejati itu yang mengungkapkan cinta terhadap sesama.

Salah satu ciri kebijakan pribadi yang dewasa itu kerendahan hati, karena kebijakan adalah buah cinta kasih (Bacaan pertama, Sir.3:17-18, 20, 28-29). Sebab kebijakan itu berarti dekat dengan alam surgawi, masuk dalam kumpulan malaekat, bergabung dengan jemaat yang terdaftar di surga, dekat dengan Allah dan roh-roh orang benar, serta dengan Kristus (Bacaan kedua, Ibr.12:18-19,22-24a). Oleh karena itu Kristus mengajarkan kerendahan hati, karena tak ada sesuatu pun yang akan terlewatkan dari pembalasan pada hari kebangkitan orang-orang saleh (Bacaan Injil, Luk.14:1, 7-14).

Yang mau diselamatkan Allah ialah manusia utuh, yaitu jasmani yang merohani, yang berdiri sebagai pribadi. Sebagai jasmani yang merohani manusia sendiri yang harus membangun kepribadiannya untuk menjadi pribadi yang utuh, dewasa dan matang, sebagaimana yang diharapkan Tuhan yang menciptakannya. Namun demikian Allah menyelamatkan manusia justru karena manusia telah menjadi begitu lemah oleh dosa. Penyelamatan bagi manusia berarti diangkat dari lumpur dosa dan kelemahan agar mampu membangun kepribadiannya. Maka pengakuan akan kedosaan atau kelemahannya dan akan pertolongan Tuhan, serta kesungguhan manusia menerima dan menggunakan rahmat pertolongan Tuhan itu, yang lebih menentukan tercapainya keselamatan daripada keberhasilannya membangun kepribadian.   


Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-22 ini mengingatkan kita, bahwa kerendahan hati yang menyelamatkan itu bukan hanya sebagai keluhuran budi kepribadian manusiawi, tetapi terutama sebagai ungkapan iman, yaitu bahwa kita telah ditebus dengan darah Kristus, diperdamaikan dengan Allah dan disucikan, yang merupakan kekayaan dan kebahagiaan yang sepantasnya dibanggakan melebihi segala yang lain. “Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang saleh”.

Sabda Kristus ini dijelaskan lebih lanjut oleh rasul Paulus, bahwa menghidupi iman dalam kehidupan sehari-hari itu kebijakan sejati, karena memperkaya keutuhan, kedewasaan dan kematangan pribadi. Sebab orang yang melaksanakan imannya dalam kehidupan sehari-hari itu adalah orang yang mengutamakan mencari harta surgawi, orang yang hidupnya sebagai anak Allah, yang suci, sekalipun masih tetap hidup di dunia ini dan bergumul dengan dunia yang terus berubah. Orang yang demikian itu dikatakan oleh rasul Paulus sebagai orang yang telah mencapai tingkat  tertentu dari kesempurnaan pribadi. “Tetapi kamu telah sampai ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi, …… kepada Allah yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Kristus pengantara Perjanjian Baru”. Sebab sumber kebijakan itu bukan akal budi (otak), melainkan hati yang penuh cinta (bdk. Yoh.21:15). Dan menurut budaya bangsa Israel dikatakan : “Hati yang arif merenungkan amsal, dan telinga pendengar merupakan idaman orang bijak”. Peka akan tanda (lambang atau sasmita, Jawa), tekun mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan bukan karena otak yang cerdas, melainkan hati yang penuh cinta kasih. Untuk menjadi bijak, untuk memiliki kepribadian yang utuh, dewasa dan matang, bukan membutuhkan otak yang cerdas, melainkan hati yang rendah hati dan lemah lembut, karena penuh cinta kasih.

Sadarkan kita bahwa iman merupakan faktor penting, bila kita mau memiliki kepribadian yang utuh, dewasa dan matang?

St. Sutopanitro, Pr

About these ads
%d bloggers like this: