Renungan Minggu 9 MEI 2010

Cintah ilahi satu-satunya yang kita butuhkan agar hidup kita menyatu dengan hidup Allah.

Untuk menjadi murid-murid Kristus yang dituntut ialah mengakui kesaksian para rasul dan mencintai Allah seperti Allah mencintai manusia (keputusan Roh Kudus) (Bacaan pertama, Kis.15:1-2, 22-29). Sebab yang menerangi umat Allah (Yerusalem baru yang turun dari surga) ialah kemuliaan Allah yang memancar dari Anak Domba sebagai lampunya (Bacaan kedua, Why.21:10-14, 22-23). Sebagaimana ditegaskan oleh Kristus sendiri, bahwa Roh Kudus, Sang Cinta Ilahi, yang diutus Bapa atas nama-Nya, yang akan mengajarkan, menjelaskan dan mengingatkan segala yang telah disampaikan-Nya kepada para rasul (Bacaan Injil, Yoh.14:23-29).

Diselamatkan itu berarti diperdamaikan dengan Allah, diampuni dosa-dosanya, disucikan, dan itu terlaksana berkat belas kasih dan cinta Allah kepada manusia (bdk. Rom.5:21). Diselamatkan berarti manusia benar-benar menjadi manusia baru, yaitu menjadi anak Allah. Ini bukan hanya sebutan, tetapi benar-benar suatu perubahan yang radikal, sehingga pengertian manusia mengenai cinta juga berubah secara radikal menurut pengertian Allah. Inilah pertobatan sejati yang mendasari kepercayaan manusia menjadi iman yang menyelamatkan.

Pesan yang mau disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Paska ke-6 ini mengingatkan kita bahwa cinta kasih ilahi merubah manusia secara radikal (bdk. Yoh.21:15-19). Pencurahan Roh Kudus, yaitu Sang Cinta Ilahi, benar-benar memperbaharui manusia dan menciptakan kembali manusia, yang penuh keterbukaan menerima-Nya, menjadi ciptaan baru. “…. tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”.

Kristus juga menyatakan, bahwa kepergian-Nya kepada Bapa (kenaikan-Nya ke Surga) haruslah justru membuat para murid dan para rasul bergembira, sebab Bapa yang lebih besar daripada-Nya, yang akan mengutus Roh Kudus. Itu berarti kesatuan hidup pribadi manusia dengan hidup Pribadi Allah menjadi sempurna dan utuh, yang digambarkan bagaikan kesatuan hidup suami dan isteri yang didasarkan pada cinta kasih mereka sebagai pribadi. Saling menyerahkan hidup antara suami dan isteri itulah cinta kasih mereka yang paling besar (bdk.Yoh.15:13). “Dan aku tidak melihat bait suci di dalamnya, sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu”.

Oleh karena itu untuk mencapai keselamatan tidak ada yang lebih penting dari pada Cinta Kasih Ilahi. Tidak dibutuhkan lagi tanda-tanda cinta sebagaimana dibutuhkan manusia secara manusiawi di dunia ini. “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah dan daging binatang yang mati lemas dan dari percabulan”. Darah adalah lambang hidup, maka makan daging binatang yang mati lemas dijadikan sebagai lambang makan bukan untuk hidup. Dan istilah percabulan atau perzinahan bukan semata-mata penyalah-gunaan  nafsu seks, melainkan berarti terutama penyembahan berhala. Karena seks sendiri dipandang mempunyai kaitan dengan hidup, penyalah gunaan seks berarti pencemaran hidup. Mencari keselamatan berarti mencari hidup sejati yang abadi.

Maka ciptaan baru tidak mendewakan hal-hal lain selain Allah, karena mendewakan yang bukan Allah itulah mencari kematian, berjinah. Makan untuk hidup dan hidup dengan menggunakan kebutuhannya secukupnya, tidak untuk mencari kepuasan nafsu. Sebab sumber hidup ialah Allah sendiri yang berkenan mencurahkannya berkat cinta-Nya kepada manusia. Hanya dalam Roh Kudus manusia menemukan kepuasan sejati yang abadi.

Sadarkan kita bahwa karena cinta-Nya Allah bukan hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga mengangkat derajat dan martabat kita sedemikian tinggi?

St. Sutopanitro, Pr

About these ads
%d bloggers like this: